Headlines News :
Home » » Seruan Kembali kepada Fitrah

Seruan Kembali kepada Fitrah

Written By MAHA KARYA on Friday, August 19, 2011 | 8/19/2011

Khutbah Jum'at
Dr. H. Muhibbuththabary, M.Ag

Segenap kaum muslimin pantas bersyukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia-Nya karena dipertemukan dengan bulan Ramadhan, yang tidak hanya memberikan kebaikan-kebaikan tetapi sekaligus menjanjikan surga bagi hamba-hambaNya yang dapat menunaikan ibadah ini dengan baik dan sempurna.

Pada penghujung Ramdhan nanti, Allah mensyari'atkan kepada kita untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai tanda syukur nikmat. Zakat fitrah ini tidak lain kecuali ditujukan untuk mensucikan diri kita dari kemungkinan-kemungkinkan terjadi kesalahan dan kekeliruan di bulan yang suci dan mulia ini. Rasulallah SAW bersabda dalam hadits: "... Bahwa zakat fitrah bertujuan mensucikan diri orang-orang yang berpuasa dan mengenyangkan fakir miskin." (HR. Muslim)

Ramadhan benar-benar dijadikan sebagai bulan tempat menempa diri, menguji kesungguhan untuk menggapai surga dengan segala kemudahan dan keistimewaan di dalamnya. Pada bulan Syawal nantinya, manusia kembali berada pada fitrahnya, asal kejadiannya yang masih suci dan murni.

Sayyid Qutub membagi fitrah kepada dua macam: Pertama, fitrah manusia, dalam pengertian "potensi dasar" yang ada pada manusia untuk menuhankan Allah dan selalu condong kepada kebenaran. Kedua, fitrah agama, yaitu wahyu Allah yang disampaikan lewat para rasul-Nya untuk menguatkan dan menjaga fitrah manusia itu. Kedua macam fitrah ini diciptakan dan bersumber dari Allah. Karenanya, antara fitrah manusia dan fitrah agama tidak akan pernah terjadi pertentangan karena keduanya mengarah kepada tujuan yang satu, yaitu kebenaran dan kesucian jiwa yang menjadikan manusia kembali dekat kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah: "(dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lain menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (QS.Al-A'raf:19)

Perhatikan dialog Allah dan Adam as. pada ayat tersebut. Allah SWT berbicara kepada Adam dengan menggunakan perkataan "pohon ini" yang mengisyaratkan kedekatan jarak antara Adam dan Rabbnya. Itulah nuansa kedekatan yang dihadirkan ketika Adam dan Hawa patuh kepada ketetapan Tuhan, ketika Adam dan Hawa masih dalam fitrah asal kejadiannya.

Namun perhatikan bagaimana Allah menegur Adam as. dan Hawa ketika keduanya terlanjur terbujuk rayuan setan untuk menjamah pohon larangan: "Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS.Al-A'raf:22). Inilah hakikat fitrah manusia. Apabila mereka taat dan patuh pada perintah Allah, mereka akan selalu dekat dengan-Nya.

Apabila ia dekat dengan Tuhannya, ia akan selalu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat. la akan merasa bahwa setiap perilakunya, gerak geriknya berada dalam pengawasan Allah. Ia sadar bahwa setiap perilakunya sedang direkam dan bakal dipertontonkan di Mahkamah Mahsyar nanti. Karena itulah, ketika Allah menjelaskan tentang perintah, hakikat, tujuan dan syariat-syariat yang berkaitan dengan puasa Ramadhan di tengah ayat-ayat tersebut Allah menjelaskan betapa dekatnya Dia dengan hamba-hambaNya: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."(QS.Al-Baqarah: 186).

Inilah hakikat dan tujuan puasa Ramadhan yang sedang kita lalui ini. Ramadhan mengajak manusia untuk kembali kepada fitrah asal kejadian mereka, yaitu dekat dengan Allah SWT. Dengan suasana kedekatan ini, manusia selalu akan merasa sadar akan keberadaan Rabbnya. Dan ini pula yang dimaksudkan juga dengan taqwa yang menjadi tujuan inti ibadah puasa.

Maka pada bulan Syawal nanti, di mana puasa Ramadhan telah berlalu, mari kita renungkan di mana posisi kita telah berada saat ini? Apakah kita sudah semakin dekat kepada Allah, ataukah keadaan kita tidak jauh berbeda dengan sebelum memasuki madrasah puasa Ramadhan? Adakah kesan Ramadhan dan segala ritual ibadah yang telah kita lakukan masih membekas dalam diri kita, ataukah nuansa Ramadhan malah telah berbalik seratus delapan puluh derajat? Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang pertama yang dapat merayakan Idul fitri dengan penuh keceriaan dan harapan surga yang akan menanti kita. Insya Allah. Amiiin.
Share this article :

0 coment:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. - Kontak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id
Copyright © 2014. Gema Baiturrahman Online - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template Editing by Saifuddin