
Oleh : Tgk. H. Abrar Zym, S.Ag
Ramadhan tahun ini merupakan momentum istimewa. Peringatan Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan 1432 H, bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66, 17 Agustus 2011. Dalam catatan sejarah, kemerdekaan Indonesia terjadi pada tahun 1945, juga bertepatan dengan bulan Ramadhan.
Al-Quranul karim diturunkan pada bulan Ramadhan. Allah Swt berfirman : “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)...(Q.S.Al-Baqarah : 185)
Dr. Quraisy Syihab dalam bukunya Wawasan al Qur'an menyebutkan, Al-Quran yang secara harfiah berarti "bacaan sempurna" merupakan nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tidak ada satu bacaan pun, sejak manusia mengenal tulis baca yang dapat menandingi Al-Quran Al-Karim.
Membacanya saja dinilai ibadah. Orang yang membacanya tidak mesti matanya nampak melihat, orang buta pun bisa membaca dan menghafalnya, makanya pada MTQ ada cabang canet (cacat netra). Al-Quran bukan saja dicatat sejarahnya secara umum, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi masa, musim, dan saat turunnya, sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya.
Yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosa katanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat, bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku dari generasi ke generasi. Tata cara membacanya diatur, mana yang dipendekkan dan dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, di mana tempat memulai membacanya, dimana tempat yang boleh berhenti atau dilarang berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya.
Tidak ada bacaan sebanyak kosa kata Al-Quran, yang kata-katanya berjumlah 77.439. kata, dengan jumlah huruf 323.015. huruf, yang seimbang jumlah kata-katanya, baik antara kata dengan padanannya, maupun kata dengan lawan kata dan dampaknya. Sebagai contoh tulis Quraisy Syihab - kata hayat terulang sebanyak lawannya maut, masing-masing 145 kali; akhirat terulang 115 kali sebanyak kata dunia; malaikat terulang 88 kali sebanyak kata setan; thuma'ninah (ketenangan) terulang 13 kali sebanyak kata kecemasan; panas terulang 4 kali sebanyak kata dingin.
Menurut orientalis Gibb, tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini yang telah memainkan alat bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti apa yang dibaca oleh Muhammad SAW, yakni Al Quran.
Dipandang dari sudut terminologis (makna ayat), kandungan Al-Qur’an dapat diikhtisarkan menjadi tiga dimensi sifat: Komprehensif, karena membahas berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seni, dan terapi jiwa; Eternal dan Reformis; serta menjangkau dimensi-dimensi non-inderawi (gaib).
Pertama, Al-Qur’an bersifat komprehensif, membicarakan segala aspek. Seluruh materi kehidupan terhimpun dalam Al-Qur’an. Problematika yang meliputi, hukum, undang-undang, sistem stratifikasi sosial kemasyarakatan, keluarga, serta masalah-masalah pribadi. Misalnya, sistem hukum dapat dipecahkan melalui delapan kata: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam permasalahan, maka jika kalian telah ber’azam (bertekad, sepakat) bertawakkallah kepada Allah” (QS.Ali Imran:159).
Dalam problema sosial ekonomi kemasyarakatan yang mengandung implikasi politik, cukup dipecahkan dengan empat belas kata. Tujuh kata dialamatkan kepada ‘Haakim’ (pemerintah): “Ambillah dari harta-harta mereka sebagai shadaqah untuk membersihkan dan menyucikan mereka”(Q.S.At-Taubah : 103).
Penulis Kepala Bidang Pendidikan Keagamaan & Pondok Pesantren
Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh

0 coment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !