Oleh Murizal Hamzah
Secara sunatullah, bulan Agustus 2011 mengingatkan masyarakat pada 66 tahun lalu. Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dalam suasana keprihatinan. Pernyataan Indonesia merdeka berlangsung pada hari Jumat bulan Ramadhan. Sukarno membaca teks proklamasi yang super singkat atas nama rakyat Indonesia. Tidak ada resepsi atau agenda lain setelah pembacaan teks proklamasi dan pengibaran bendera Merah Putih. Negara ini masih sangat miskin. Bahkan tidak ada kendaraan dinas presiden Indonesia. Satu kata kunci, bahwa kemerdekaan Indonesia adalah rahmat dari Allah SWT.
Masih pada bulan yang sama, enam tahun lalu pada tanggal 15 Agustus 2005 ditandatangani perdamaian antara RI dengan Gerakan Aceh Merdeka. Perjalanan perjanjian yang sangat singat. Dimulai pada akhir Januari 2005 berakhir pada pertengahan Agustus 2005. Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh menjadi saksi sejarah. Ribuan warga menyaksikan langsung momen berharga itu melalui puluhan televisi yang dipasang di serambi masjid. Tetesan air mata tumpah di Rumah Allah. Rasa aman dan nyaman itu sangat berharga sebagai bagian dari karunia Allah SWT.
Ketika itu, Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla yang sangat berperan dalam merukunkan RI-GAM menyebutkan dialog ini harus berakhir sebelum 17 Agustus 2005. Tujuannya, agar rakyat Aceh bisa merayakan 17 Agustus dengan leluasa dan ikhlas tanpa ancaman. Begitulah, Agustus 2011 menjadi enam tahun perdamaian Aceh dan yang ke 66 bagi kemerdekaan Indonesia.
Bertepatan dengan 17 Agustus ini, umat Islam menggelar peringatan Nuzulul Qur’an. Ada makna pelaksanaan mengenang turunnya Kitabullah yakni dibutuhkan keinginan untuk mengamalkan perintah-perintah dari kandungan Quran. Mahir membaca Qur’an, memahami arti ayat dan menunaikan amal-amalan Kitabullah. Kita tidak mengingatkan umat Islam seperti keledai yang mengangkut kitab-kitab. Bahasa kasarnya, kita tidak belajar pada apa yang dimilikinya. Cenderung membanggakan tanpa menguras isi kita suci tersebut. Pada dimensi lain, mesti dicegah kecenderungan bahwalah kitalah yang paling alim atau benar. Simaklah firman Allah berikut ini, ”Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (QS. an-Najm [53]:32)
Aceh damai dan Indonesia merdeka menjadi pertanyaan bagi warga. Sejauh mana makna damai bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Aceh? Mempertahankan damai di Tanoh Endatu merupakan kewajiban seluruh warga. Masyarakatlah pemilik Bumi Tjut Njak Dhien ini. Bukan milik sekelompok tertentu. Ingatlah, penduduk Aceh yang mengalami nestapa selama 30 tahun di bawah telapak sepatu lars tentara bawah atau tentara atas.
Siapa pun yang berada di Bumi Rencong berperan merawat damai yang baru seumur jagung. Bagaimana caranya? Dengan menjaga mulut dari infomasi yang masih kabar-kabur. Tidak rajin mengirim pesan singkat melalui telepon seluler atau berbicara pada hal-hal yang belum jelas asal usul berita. Fakta membuktikan, fitnah lebih cepat daripada kilat dalam menyebarluaskan warta.
Kenanglah pada masa perang Aceh yakni warga yang dibunuh oleh pihak yang bersenjata karena fitnah atau infomasi sepihak. Padahal dalam Islam berulang kali disebutkan untuk cek dan ricek jika menerima berita. Tidak salah kita membangun pemikiran kritis terhadap sesuatu kebijakan atau pernyataan yang dilontarkan oleh pejabat atau tokoh masyarakat.
Merawat perdamaian Aceh dalam bingkai NKRI merupakan hal yang mutlak dilakukan. Dengan perdamaian yang berjalan ini, warga bisa melaksanakan ibadah dengan baik. Tidak ada kekahwatiran beraktivitas termasuk kewajiban bekerja sebagai bagian dari tuntutan hidup. Keikhlasan dan kesabaran merupakan salah satu modal penduduk untuk melanjutkan tongkat perdamaian di Serambi Mekkah.

0 coment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !