Headlines News :
Home » » Al-Quran, Referensi Menata Aceh Damai (2)

Al-Quran, Referensi Menata Aceh Damai (2)

Written By MAHA KARYA on Saturday, August 20, 2011 | 8/20/2011

Oleh : Tgk. H. Abrar Zym, S.Ag

Dipandang dari sudut terminologis (makna ayat), kandungan Al-Qur’an dapat diikhtisarkan menjadi tiga dimensi sifat: Komprehensif, karena membahas berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seni, dan terapi jiwa; Eternal dan Reformis; serta menjangkau dimensi-dimensi non-inderawi (gaib).

Pertama, Al-Qur’an bersifat komprehensif, membicarakan segala aspek. Kedua, Al-Qur’an bersifat eternal dan reformis. Berjalan sesuai dengan tuntutan zaman. Tidak kontradiksi dengan perkembangan rasio dan keilmuwan. Allah mengetahui bahwa manusia selalu berkembang, dinamis dan progresif. Andaikan hukum-hukum alam serta teori-teori ilmiah disusun secara definitif dan terbatas, maka manusia akan kacau balau, bingung, dan akan ingkar serta mendustakan kebenaran agama. Al-Qur’an datang dalam format elastis, berjalan seiring dengan derap langkah kemajuan manusia. Semakin ilmu pengetahuan manusia bertambah, kian terbukti pula kemukjizatan dan kehebatan Al-Qur’an. Demikian pula, setiap ditemukan kebenaran ilmiah, disitu sudah diisyaratkan bahwa Al-Qur’an tidak bertentangan dengan kebenaran ilmiah.

Ketiga, Al-Qur’an mampu menjangkau dimensi-dimensi non-inderawi (ghaib). Pemberitaan ghaib yang diungkapkan misalnya; Al-Qur’an telah memprediksi kemenangan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, setelah beberapa saat sebelumnya mengalami kekalahan besar dari bangsa Persia. Ternyata prediksi Al-Qur’an itu benar-benar terbukti (QS.Ar-Rum:2-3). Pemberitaan lain adalah tentang keselamatan badan fir’aun yang tenggelam di laut merah 3.200 tahun yang lalu, baru terbukti setelah muminya ditemukan oleh LORET di Wadi Al-Muluk Thaba Mesir pada tahun 1896, dan dibuka pembalutnya oleh Eliot Smith 8 Juli 1907. Maha benar Allah yang mengatakan kepada Fir’aun pada saat kematiannya (Q.S.Yunus : 92).

Maka, mengapa kita masih enggan mempelajarinya? Sangat disayangkan tidak sedikit umat islam tidak bisa membaca kitab sucinya, dengan peringatan Nuzulul Qur’an ini, mari kita tingkatkan kemampuan membacanya.

Peringatan Nuzulul Qur’an bukan hanya sebatas memperingatinya. Tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana kita menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadikan Al-Qur’an itu sebagai pegangan dan pedoman dalam setiap tindakan dan perbuatan kita.

Namun sayang, kadang-kadang dalam meriahnya peringatan nuzulul Qur’an, tersirat realitas sosial yang sangat kontradiktif. Pada satu sisi, formalisme keagamaan dengan mengusung kemuliaan dan keagungan Al-Qur’an, menjadi simbol pengukuhan akan kebenaran firman Tuhan, namun pada sisi lain terlihat jarak yang menganga antara kitab suci dengan manusia yang meyakini kebenarannya.

Jika al-Qur’an ayat pertama turun dengan kalimat iqra’ yang berarti perintah untuk membaca, mengapa kebanyakan negara-negara muslim hidup dengan gelumur buta huruf dan terbelakang dalam sain dan ilmu pengetahuan? Kalau para penguasa selalu larut dalam teks pidato sambutan yang penuh pujian terhadap al-Qur’an, lantas mengapa ketika kekuasaan telah direnggut, perilaku kadang sangat paradoks dengan titah Al-Qur’an? Sebelum duduk di kursi kekuasaan seringkali membaca ayat kursi, setelah dapat kursi, lalu lupa ayatnya.

Di podium kita berteriak lantang : “Maju tak gentar membela yang benar!” dalam praktek kalimat itu berubah; ‘maju tak gentar membela yang bayar !‘ Kepada masyarakat diserukan : ‘Mari kita tingkatkan persatuan ! kalimat ‘persatuan’ diplesetkan menjadi ‘persatean’. masyarakat dikipas-kipas, diasap-asap.

Maka, marilah kita bangkit dan bersatu membangun Aceh yang damai dan bermartabat, dengan tidak saling meruntuhkan. Negeri ini adalah negeri kita, kita bukan orang asing di negeri ini. “Geutanyoe bandum ta meusyedara”. Selama masih dengan amar makruf umat bisa menjadi baik, kenapa mesti nahi munkar yang didahulukan dalam dakwah.

Selama masih bisa berbicara lemah lembut, kenapa mesti berteriak lantang dan bertegang leher saling mencaci. Selama masih bisa saling mengajak, kenapa mesti saling mengejek. Selama masih bisa saling merangkul, kenapa mesti saling memukul. Selama masih bisa calling down kenapa mesti bermain smack down.

Kepada hadirin sidang jamaah sekalian kami mohon maaf, kepada Allah kita memohon ampun dan berserah diri, seraya berdoa: Ya Allah ya Tuhan kami, junjungan dan pelindung kami, ketika mata telah banyak tertidur, bintang gemintang telah tenggelam,tetapi Engkau Maharaja yang hidup dan gagah; Ya Allah Tuhan yang Maha Rahman, Ketika raja-raja telah menutup pintunya dan tirai-tirai telah membungkusnya.Tetapi pintuMu terbuka lebar buat para peminta, inilah kami memohon dan meminta di depan pintuMu.

Bimbinglah kami dalam beragama ini agar jauh dari salah kaprah menuhankan diri kami, menuhankan kelompok kami, menuhankan guru-guru kami, menuhankan segala kepentingan kami, menuhankan harta dan kekuasaan kami, menuhankan kebenaran kami yang belum tentu benar, menuhankan tuhan-tuhan yang bukan tuhan sejati.
Kepala Bidang Pendidikan Keagamaan & Pondok Pesantren
Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh
Share this article :

0 coment:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. - Kontak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id
Copyright © 2014. Gema Baiturrahman Online - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template Editing by Saifuddin