Drs. H. Ramli Yusuf, MA
Isteri Rasulullah SAW ’Aisyah radhiyallahu ‘anha menerangkan bahwa bila masuk sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan Rasulullah SAW menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya dan memperkencang kain sarungnya.
(Riwayat Bukhari Muslim).
(Riwayat Bukhari Muslim).
Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa hari-hari atau malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan adalah puncak ibadah Rasulullah. Hampir boleh dikatakan bahwa ibadah beliau di malam-malam sepuluh paling banyak dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya (ma la yajtahidu fi ghairiha). Sebab ada sesuatu yang beliau intip atau cari di saat-saat tersebut yaitu malam Qadar yang lebih indah dari seribu bulan.
Tidak tanggung-tanggung beliau berjaga malam menghidupkannya dengan beribadah kepada Allah SWT. Rasulullah tidak beribadah sendiri akan tetapi beliau juga membangunkan dan mengajak keluarganya (aiqadha ahlahu) untuk sama-sama melaksanakan shalat dengan beliau dan amal-amal shalih lainnya. Bukankah ada firman Allah: Wahai orang orang-orang yang beriman jaga dirimu dan keluargamu agar tidak dijamah api neraka? Demikian juga Rasulullah tidak “mendekat” dengan isterinya di malam-malam tersebut sebab beliau sedang berkonsentrasi untuk beribadah kepada Allah.
Pembaca yang mulia, hadits di atas sebagai dalil adanya anjuran berat dari Rasulullah kepada umatnya untuk menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan atas dasar kelebihan yang luar biasa yang tidak ada di bulan-bulan yang lain.
Bila ada yang bertanya mengapa sampai Rasulullah begitu mencari malam qadar bukankah beliau sebagai Rasul Allah telah diberitahukan sebelumnya oleh Allah kapan terjadi malam kemuliaan tersebut sehingga Rasulullah tidak capek-capek mencarinya? Jawabnya Rasulullah juga manusia biasa tidak semua rahasia di alam ini Allah memberitahukan kepada beliau. Apalagi umatnya yang datang setelah beliau lebih–lebih lagi tidak mengetahuinya. Oleh karena rahasia ini tertutup rapat sampa-sampai kepada Rasul-Nya maka tugas kita sebagai umatnya menuruti kiat Rasulullah dalam mencari malam Qadar itu dengan cara menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah.
Allah tetap menjaga perasaan hambanya ini sehingga Allah tidak menentukan malam Qadar jatuh pada malam sekian. Bisa dibayangkan seandainya Allah menjelaskan bahwa malam qadar itu jatuh pada malam 21 atau 23 Ramadhan dan seterusnya misalnya maka akan sedihlah atau akan terpukullah perasaan orang-orang yang secara kebetulan tidak sempat atau tidak sanggup beribadah pada malam yang ditentukan tersebut karena alasan sakit atau dalam perjalanan misalnya.
Mari kita mengikuti Rasullah dalam mencari malam Qadar yang sangat agung itu siapa lagi yang menjadi idola kita sebagai umatnya kalau bukan rasul kita Muhammad SAW. Rasanya belum terlambat masih tersisa beberapa malam lagi jangan sampai luput dari intipan kita sehingga dengan menyempatkan beribadah pada malam mulia tersebut berarti kita diberikan bonus umur barakah 84 tahun yang seluruhnya dalam suasana beribadah kepada Allah.

0 coment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !