Kedatangan saya dan Ust Zamhuri Ramli salah seorang imam Masjid Raya Baiturrahman ke Bangkok adalah atas undangan Ust Rangsan Binkhamson, imam Masjid Indonesia di Bangkok kerjasama dengan Kedutaan Besar RI (KBRI) Bangkok. Selama di negeri Thai kami berdua mengisi berbagai kegiatan seperti imam tarawih, azan, dan pengajian di Thai Muslim TV. Setiap hari agenda untuk kami berdua telah disusun dengan detil oleh mereka.
Malam pertama kami di Bangkok, Sabtu (20/8) kami dundang buka puasa bersama warga muslim Indonesia di KBRI, dilanjutkan dengan tarawih dan memperingati Nuzulul Quran, dihadiri sekitar 300 orang. Bertindak sebagai penceramah Drs Asep Haerul Gani Psi dari Jakarta. Saya sendiri ditunjuk sebagai qari mengawali acara yang turut dihadiri Duta Besar H. E. Mohammad Hatta. Sedangkan shalat tarawih diimami Ustadz Zamhuri yang mendapat simpati dari jamaah.
Menurut ketua Majelis Taklim yang juga bagian Protokoler KBRI Bangkok Krishna Djelani, selama puasa pihaknya mengadakan acara berbuka setiap Sabtu dilanjutkan dengan tarawih dan ceramah. Sedangkan acara memperingati Nuzulul Quran sudah diagendakan setiap tahun dengan menghadirkan jamaah yang agak banyak dan biasanya mengundang penceramah dari Indonesia. Selama Ramadhan, KBRI juga mengadakan pesantren kilat bagi anak usia sekolah mulai SD sampai SLTA selama dua hari. Mereka diajarkan tentang cara ibadah shalat, Fiqih, tauhid dan lain-lain.
Saat buka puasa bersama, saya melihat suasana keakraban begitu kentara. Seakan mereka teman lama yang baru ketemu. Begitulah mungkin hidup di rantau orang. Setiap keluarga umumnya membawa serta isteri dan anak, bahkan balitapun bebas berlarian dan bercengkrama di ruang aula sebelum acara dimulai. Menu berbuka yang disediakan panitia juga khas Indonesia seperti agar-agar, daging rendang, sup, kolak yang berisi kolang kaling dan lain-lain.
Malam kedua kami berkesempatan mengunjungi Masjid Indonesia. Masjid ini awalnya hanya berupa rumah warga Indonesia yang diwakaf untuk masjid. Kontruksinya empat tingkat dan mampu menampung sekitar 600 jamaah. “Saya merasa terharu atas undangan ini. Kedatangan saya ke Bangkok merupakan kali pertama. Alhamdulillah saya dapat mengimami tarawih di berbagai masjid,” papar Zamhuri. Di masjid ini kami disambut sangat antusias, bahkan selembar spanduk Selamat Datang terpampang di gerbang pintu masuk. Sungguh kami sangat terharu dengan sambutan masyarakat muslim Bangkok.
Serasa di Negeri Sendiri
Selama di Bangkok terutama saat berada di komunitas muslim, kami berdua merasakan bahwa betapa ummat Islam di sana sangat ramah dan merasa senang dikunjungi. Betul-betul seperti di negeri sendiri. Apalagi saat berbuka puasa di Kampung Jawa wilayah Sathorn sekitar lima km dari KBRI itu, terlihat nuansa Indonesia. Setiap empat orang dihidangkan satu talam yang berisi nasi dan lauk pauk. Jadi persis cara jamaah tabligh makan karena dipandang sunnah. Pelaksanaan shalat tarawih juga persis sama, baik tata caranya maupun doa-doa yang dibacakan antar salam.
Menurut kami yang beda adalah tingkat kebersihan antara Bangkok dan Aceh. Masjid-masjid tampak bersih sampai ke WC, tak ada tercium bau pesing sedikitpun. Masjid yang yang tidak begitu luas dan gaya Masjid Demak ini, sepenuhnya dibiayai oleh warga Indonesia yang sudah lama menetap di Bangkok.
Beberapa pengurus masjid yang dimintai keterangan menyebutkan bahwa mereka merupakan keturunan ketiga dan keempat masyarakat Jawa yang ratusan tahun lalu umumnya datang dari Kendal Jawa Tengah. Kampung nini dihuni oleh 4.000 penduduk asal Jawa. Mereka tetap hidup rukun dengan tetangganya yang beragama Budha. Sayangnya mereka umumnya tidak memahami bahasa Melayu dan Inggris kecuali bahasa Thai. Mengimami shalat tarawih bagi Ust Zamhuri di masjid ini betul-betul memberi kesan mendalam, karena tak beda dengan suasana di Aceh.
Beberapa puluh tahun silam, Bangkok sebenarnya negeri yang tertinggal. Namun karena tekadnya dalam membangun negeri mereka, menjadikan mereka saat ini lebih maju dari Indonesia. Mereka menerapkan kedisipilinan di segala bidang, kebersihan dan memberikan kenyamanan bagi pendatang. Tidak heran jika orang Indonesia yang pernah tinggal di Bangkok, saat pulang ke negerinya merasa tak nyaman karena sering terancam keamanannya. “Disini saya sudah merasa sangat nyaman, saya berani pulang malam hari tanpa rasa takut,” ujar Sulaiman salah seorang staf KBRI asal Bogor yang setia menemani kami.

0 coment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !