Tanpa disadari umat Islam sudah tertipu dengan sebutan Nabi Muhammad SAW adalah sosok orang miskin harta. Diharapkan dari klaim sepihak ini, pengikutnya tidak peduli pada dunia dan sebaliknya mabuk berzikir, beribadah tanpa peduli pada situasi masyarakat. Bahasa kasarnya, contohlah kemiskinan Rasulullah.Bulan Rabiul Awal dirayakkan sebagai Maulid Rasulullah. Orang Aceh melakapkan dengan Maulud. Bagi mahasiswa yang jauh dari orangtua atau santri, Maulud identik dengan bulan perbaikan gizi. Jadual pendai pun padat dari satu mimbar ke mimbar lain mengupas makna hari kelahiran. Tidak salah maulud diadakan secara seromonial yang diawali ceramah, zikir, barzanji serta berakhir dengan makan berjamaah. Dari rangkaian kegiatan itu, yang maha penting yakni penceramah mengupas kisah-kisah kemanusiaan Nabi Muhammad yang wajib dilaksanakan pada kondisi sekarang.
Semasa hidup Nabi Muhammad hidup tidak pernah mengadakan peringatan hari lahir atau ulang tahun. Adalah Shalahuddin Al Ayubi (1137-1193) yang merintisnya setelah ratusan tahun nabi wafat agar umat termotivasi hidup ala Nabi Muhammad
Pertanyaan menarik, benarkah Rasulullah orang miskin harta dan hanya mahir berceramah? Nabi Muhammad SAW adalah seorang saudagar yang dermawan. Kata kuncinya pada kemurahan hati memberikan harta bendanya kepada orang dhuafa. Sehingga sebelum wafat, Rasulullah meminta seluruh dinarnya dishadaqahan kepada anak yatim piatu atau untuk kemajuan umat Islam.
Dengan demikian kita keliru menyatakan utusan Allah itu sebagai ureung meukarat bin miskin. Jusru bakal dagang atau kepemimpian sudah muncul sejak kecil. Pada usia anak, Muhammad kecil berbisnis menggembalakan kambing milik para kabilah. Memasuki usia remaja, Muhammad melakukan perjalanan bisnis ke Syam sejauh 1.000 kilometer. Pada usia 25 tahun menikah dengan janda Siti Khatijah. Pemuda Muhammad menyerahkan mahar kawin 20 unta yang jika dikurskan sekarang sekitar Rp 200 juta. Apa modal Rasulullah dalam berdagang dan berdakwah? Modal utama antara lain kepandaian dan kejujuran. Seorang uswatun hasanah bagi umat pada masa kini.
Berdasarkan penuturan yang dikutip dari berbagai kisah, Rasulullah menerapkan gaya hidup sederhana, bukan miskin. Hartawan yang dermawan untuk perjuanan agama daripada hidup bermewah-mewah. Ini bukan berarti umat Islam harus menjadi pedagang seperti Nabi Muhammad. Inti dari berbisnis yakni menerapkan ilmu manajemen sehingga aktivitas berjalan sesuai dengan target. Mandiri dan tidak bergantung pada orang lain adalah salah satu sikap entrepreneur sejati.
Tidak berlebihan buleuen maulud sebagai bulan kebangkitan umat dari aspek ekonomi. Adalah kewajiban setiap umat Islam harus mandiri dengan membuang sikap menadah tangan. Rasululah bersabda sebaik-baik manusia yakni mencari rezeki dari tangan sendiri. Dan hal ini sudah dibuktikan oleh saudagar dari padang pasir yakni Muhammad SAW. Murizal Hamzah

0 coment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !