Adalah Ummul Mukminin Aisyah r.a, yang mengabarkan ihwal suaminya, Muhammad SAW. Aisyah berkata, “Rasul biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri, seperti yang dilakukan salah seorang diantara kalian di dalam rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya, dan membereskan urusannya sendiri.”Begitulah gambaran rasulullah dalam rumah tangganya. Dan hal itu diutarakan sendiri oleh sang istri yang pernah sekali waktu cemburu kepada mendiang istri nabi sebelumnya, Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid.
Era kenabian memang telah berlalu. Putaran roda zaman tak luput membawa perubahan. Gilasan degradasi nilai tak dapat dihidarkan. Dan buah dari itu semua adalah jauhnya tata cara hidup ummat dari tuntunan sunnah.
Di era kini, tidak sekali dua kita medapat kabar soal istri yang dizalimi suami. Istri memegang kendali dalam keluarga sementara suami tenang-tenang tanpa beban. Sebaliknya, ada juga suami yang pontang-panting cari nafkah untuk istri, tetapi si istri asyik menuntut yang tidak dimiliki oleh suami. Muncullah apa yang kemudian disebut ketidakharmonisan. Pada tahap kritis, pintu darurat bernama perceraian pun tak dapat dihalang.
“Padahal, segala sesuatu bisa dimusyawarahkan. Selesaikan semuanya dengan komunikasi yang baik,” kata mantan Kabid Pemerintahan Gampong Badan Pemberdayaan Masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam, Ponirin, S.Sos.
Diterangkan, dalam banyak hal, suami dan istri memiliki kedudukan yang sama dalam keluarga. Tidak selalu tugas rumah tangga itu adalah tugas istri.
Hal senada diaminkan Pembantu Dekan IV Fakultas Adap IAIN A-Raniry, DR Nurjannah Ismail, MA, “suami dan istri bisa langgeng asal saling meridhai dan saling musyawarah. Istri harus menghargai suami yang telah memberi izin kepada istri untuk bekerja diluar, misalnya. Dan suami juga ikhlas membantu tugas istri dan saling merelakan.”
Mengingat suami istri sebagai pasangan yang diikat dalam tali yang sah, dengan berbagai kekuatan dimiliki bersama, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Untuk membina keluarga mawaddah warahmah, para suami maupun istri sepatutnya mencontoh jejak rumah tangga Rasullullah.
Begitu juga sang istri memperlakukan Rasul, ketika rasul memperistri Khadijah, seorang janda kaya raya, tetapi Khadijah tetap menghargai rasul sebagai suami yang dihormati dan dicintai dengan segenap jiwa, walau suaminya tidak punya modal apapun.
“Kalau kita tuntut suami seperti rasul, tentunya kita harus seperti Khadijah, tidak mudah mengikuti sosok seperti rasul, itu hanya orang-orang pilihan, tetapi usaha-usaha seperti itu harus ada,” jelas Nurjannah yang juga Dosen Tafsir di Fakultas Adab.
Ia menambahkan, sekarang sering terjadi kesenjangan yang luar biasa, ketika sang istri menduduki jabatan lebih tinggi dari suami. Lalu suami tidak rela istrinya lebih tinggi, istri pun terkadang tidak menghargai suami, mentang-mentang telah memiliki jabatan tinggi, suaminya tidak diurus lagi.
Ingatlah hadis nabi, Baiti jannati (rumahku adalah syurga bagiku) terbayang oleh kita bagaimana kehidupan rasul dengan istri-istrinya. Saling menghargai, meridhai, mengayomi dan mencintai. “Kalau suami istri hanya berkutat pada hak dan kewajiban, ya pasti keluarga tidak akan bertahan lama dan saling memojokkan satu sama lain,” tambahnya.
Rasul juga mengatakan, Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang yang hina. Sehingga ketika rasul berumah tangga tidak pernah menghardik istrinya, walau terkadang istrinya membuat masalah tetapi rasulullah tetap menasihatinya dengan kata-kata yang mengayomi.
Pada suatu ketika diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i, Ada diantara istri Nabi shalallahu alaihi wassalam yang menghadiahkan semangkuk roti dicampur kuah kepada beliau, selagi beliau berada di rumah istri beliau yang lain (Aisyah). Aisyah menepis tangan pembantu yang membawa mangkuk, sehingga mangkuk itu pun jatuh dan pecah. Nabi Shalallahu alaihi wassalam langsung memunguti roti itu dan meletakkan kembali diatas mangkuk, seraya berkata, “Makanlah. Ibu kalian sedang cemburu.” setelah itu beliau menunggu mangkuk pengganti dan memberikan mangkuk yang pecah itu kepada Aisyah.
Begitu suri tauladan rasul menjadi cermin dalam membina mahligai rumah tangga yang barakah. Maka tak heran whyu dalam Al Quran mengabadikannya, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab:21)jannah

0 coment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !