Oleh Sayed Muhammad HusenSahabat Sayuthi termasuk sangat terlambat tumbuh kesadarannya untuk mengikuti jejak Rasulullah Muhammad SAW sebagai seorang pedagang. Sama halnya seperti anak muda lain, ia lebih mengenal Rasulullah sebagai sosok teladan dalam perilaku, misalnya junjur dan dapat dipercaya. Rasulullah adalah teladan ummat Islam, tanpa merasa perlu dirinyaa bertanya kritis, adakah kita meneladani beliau dalam segala lini, termasuk sebagai pelaku bisnis yang sukses.
Sayuthi disadarkan oleh pelatihan kewirausahaan yang diikutinya di Jakarta. Ia mendapatkan pembekalan dari pelatih untuk menjadi seorang entreperenur muslim, memberdayakan ekonomi ummat dan mengkampanyekan muslimin negeri ini agar siap bersaing dengan kaum sipit mata. Ia pun jadi tahu, bahwa menjadi pedagang, saudagar atau pelaku bisnis merupakan bagian dari sunnah Rasulullah SAW.
Jika dirunut ke belakang, pelatihan yang diikuti Sayuthi bukan titik awal proses menjadi seorang pedagang. Ia telah belajar bisnis sambil kuliah di Fakultas Syariah. Ia bersama abangnya mengelola radio siaran swasta, yang ketika itu ia harus memperkuat marketing untuk mendapatkan iklan dari donatur, sponsor dan perusahaan. Ia benar-benar mendapatkan pengalaman bisnis radio siaran. Sayangnya bisnis itu tak berlanjut, karena radio tutup siaran.
Dalam penantian panjang tanpa kerja dan tak tahu lagi kemana harus “menggadaikan” ijazah fakultas syariah, Sayauthi dan teman-teman mendapat undangan pelatihan dari Pusat Inkubasi Bisnis Jakarta. Lalu dia mengembangkan kredit mikro (syariah) sebagai salah satu strategi pemberdayaan ekonomi di kampungnya. Feeling bisnisnya terus terasah. Pengelamannya semakin kaya, akibat berinteraksi secara intens dengan kaum pedagang (pengusaha mikro).
Dari pengalaman itu, Sayuthi mengembangkan usaha pribadi dengan membuka toko kelontong (serba ada). Usaha itu pun gagal. Ia lalu membuka usaha pangkas. Itu pun gagal. Sayuthi tak lekas patah arang, sebab ia tahu, bahwa seorang entrepreneur tak boleh menyerah. Lalu ia buka lagi usaha pangkas. Ternyata sudah sepuluh tahun lebih, usaha itu masih bertahan dan terus berkembang. Ia pun menambah unit usaha warkop dan warung nasi.
Sekarang, di usia 47 tahun Sayuthi menjadi pribadi yang mandiri, tidak bergantung pada orang lain, tak tertarik menjadi PNS dan tak ingin juga mencampur-adukkan antara politik dengan bisnis. Dengan status satu isteri dan dua anak, ia memang belum kaya, namun telah mencapai kehidupan yang layak. Sayuthi yakin, usaha yang digelutinya akan benar-benar mapan hingga ia “pensiun” nanti.
Ketika saya tanyakan, mengapa ia begitu yakin menjadi seorang pedagang? Sementara ayahya dulu seorang guru agama dan imam di kampung, yang telah “menggiringnya” menjadi ulama lewat pendidikan di fakultas syariah? Ia spontan menjawab, “Justru pribadi nabi yang belajar bisnis dari pamannya sejak usia 12 tahun dan sukses beliau berdagang dengan Khadijah lebih membekas dalam diri saya.” Ia mengaku belajar sirah Rasul pada sebuah pesantren kecil di kampungnya.
Sayuthi adalah inspirasi di hari-hari kita menggelar peringatan maulid Rasulullah Muhammad SAW. Seharusnya kita terus menggali satu sisi kehidupan Rasulullah sebagai seorang pedagang, sehingga kita memilki energi yang cukup dalam mengembangkan entrepeneurship di negeri ini: sebuah negeri yang warganya sangat menyukai profesi sebagai pegawai negeri, padahal itu bukan sunnah Rasulullah. Jadi saatnya kita galakkan kembali sunnah Rasulullah dengan menjadi seorang pedagang.

0 coment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !