Headlines News :
Home » , » Upaya Menjadikan Keluarga Dakwah

Upaya Menjadikan Keluarga Dakwah

Written By MAHA KARYA on Wednesday, March 31, 2010 | 3/31/2010

Oleh Sayed Muhammad Husen

Ustaz Nur berkomitmen menjadi keluarga dakwah; sebuah keluarga yang mendedikasikan seluruh hidupnya bagi transformasi dari jahiliyah kepada islamiah. Ia bergeming diajak berjihad dalam wujud perang oleh teman-temannya. Hampir saja ia dituduh “murtad”, karena menolak ajakan mengubah strategi perjuangan penegakan syariat Islam yang diyakininya: dakwah dan tarbiyah.

Awal perkenalan saya dengan Ustaz Nur ketika ia mengelola training instruktur PII di Darussalam (1987). Ia seorang senior yang memiliki militansi dalam mengkader anak-anak ummat yang berpihak pada kebenaran dan mengoreksi kezaliman yang dipentaskan oleh kekuasaan. Ia juga meluruskan pemahaman tentang pandangan hidup (way of life) ummat yang diselewengkan oleh rezim masa itu.

Ustaz Nur tak menyelesaikan pendidikannya di IAIN Ar-Raniry. Menurutnya, perguruan tinggi formal tak menjamin alumninya mandiri dan memiliki sikap pembelaan terhadap kaum tertindas (mustadh’afin). Dalam pandangannya, perguruan tinggi ibarat industri yang memproduksi para penganggur dan deretan calon PNS. Mereka tak berminat memperkuat dan “menderita” pada shaf masyarakat sipil (baca: barisan dakwah).

Dalam usianya mendekati kepala lima, Ustaz Nur semakin yakin menjadi keluarga dakwah, walaupun lapangan jihad sering menggodanya. Istrinya juga seorang da’iyah yang fasih berbahasa Arab. Lima orang buah hatinya sejak dini diarahkan untuk mempersiapkan diri menjadi da’i profesional. “Lapangan jihad sekarang masih dalam wujud membangun kesadaran ummat,” katanya. “Saya telah mewaqafkan diri menjadi keluarga dakwah.”

***

Saya sangat prihatin melihat ratusan ustaz di Aceh yang serupa hidupnya dengan Ustaz Nur. Mereka sepenuhnya mewaqafkan diri untuk dakwah. Misalnya, mengasuh pengajian, mengelola ma’had dan menjadi juru dakwah. Keluarganya juga penopang dakwah. Tak ada pekerjaan lain sebagai pintu rezeki (baca: penghasilan) masuk. Namun, masya Allah, mereka tetap bisa hidup dengan barakah rezeki yang dilimpahkan Allah SWT.

Karena itu, sepatutnya Dinas Syariat Islam, Kanwil Kementrian Agama, Ormas Islam, Lembaga Amil Zakat, dan Baitul Mal, memikirkan kehidupan yang layak dan membiayai kehidupan da’i ilallah itu. Mereka dapat membuat program dukungan terhadap da’i profesional yang sepenuh hidupnya diabdikan bagi upaya mencerdasakan ummat dan penegakan syariat Islam di lapisan bawah.

Program seperti itu pernah dilaksanakan oleh Baitul Mal Aceh (BMA) pada 2004 dengan membayar honor bulanan enam orang da’i di Alue Naga, Krueng Lamkareung, Layeun, dan Paroy. Honor mereka bersumber dari zakat senif fiisabillah Rp 500 ribu/bulan. Program itu terhenti akibat Kepala BMA HM Yusuf Hasan meninggal dalam tsunami 2004.

Bukankah kita tak boleh membiarkan aktivis dan keluarga dakwah hidup miskin. Maka saatnya menfasilitasi aktivitas dakwah mereka. Mereka tak mungkin jadi “peminta-minta”, tapi kitalah yang proaktif mendata dan melayani kebutuhan hidupnya. Tak ada artinya lagi kita menyesal ketika pada misalnya ada di antara mereka yang direkrut kaum teroris, dengan harapan yang lebih besar: syahid di jalan Allah. Marilah kita berbuat sebelum semuanya terlambat.
Share this article :

0 coment:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. - Kontak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id
Copyright © 2014. Gema Baiturrahman Online - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template Editing by Saifuddin