Headlines News :
Home » » Membina Anak Yang Shalih

Membina Anak Yang Shalih

Written By MAHA KARYA on Wednesday, March 31, 2010 | 3/31/2010

Oleh : Tgk. H. Warul Walidin Ak

Anak pada hakikatnya adalah generasi penerus, bukanlah semata-mata karena meneruskan keturunan darah dan daging, akan tetapi penerus amanah yang Allah telah berikan kepada manusia. Menurut al-Qur’an, anak mempunyai empat kecendrungan atau potensi, berdasarkan bimbingan dan pendidikan yang dia terima. Pertama, anak yang berpotensi menjadi anak yang saleh, yang menurut terminologi al-Qur’an disebut qurratu ’a’yun, yaitu anak yang taat kepada Allah, hormat kepada orang tua dan berguna di tengah-tengah masyarakat; kedua, anak hanya sebatas menjadi kebanggaan orang tua atau zinatu al-hayatu ad-dunya, munkin karena keberhasilannya menjadi sarjana, atau keberhasilannya menjadi orang kaya, meskipun pola hidupnya jauh dari nilai-nilai agama dan akhlakul karimah, ketiga, anak dapat menjadi cobaan atau fitnah bagi orang tuanya.

Meskipun mereka telah dididik sebagai mana anak Nabi Nuh, namun anaknya tetap menyeweng. Ke empat anak berpotensi menjadi musuh atau menurut istilah al-Qur’an adalah ’aduw, yaitu menjadi musuh Allah, karena ia menukar keimanan dengan kekufuran atau menjadi musuh bagi orang tuanya, melawan dan durhaka terhadap orang tua na’uzubillahi min zalik.
Dari keempat kecendrungan tersebut, tentunya semua orang tua menginginkan agar anaknya menjadi anak yang shalih yang berakhlak mulia sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an : ” Dan orang-orang yang berkata : ”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Furqan : 74).

Untuk memperoleh anak yang shalih demikian diperlukan perhatian serius, orang tua mencurahkan segenap tenaga dan fikiran dana dan pengawasan dalam rangka pendidikan anak-anak sebagai generasai muda. Allah SWT memperingatkan orang tua untuk tidak meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan lemah, dengan kata lain Allah meninginkan para orang tua agar mendidik anak-anak mereka adalah anak-anak yang kuat imannnya, kuat intelektualnya, kuat ekonominya, kuat kepedulian sosialnya, dan yang paling penting juga baik pula akhlaknya. Salah satu kunci utama membina akhlak generasi muda adalah memberikan mereka pendidikan yang menjadikan mereka shalih spiritualnya, shahih intelektualnya dan canggih ketrampilanny, gigih kerjanya.

Dalam tradisi pendidikan di Aceh, pendidikan dalam keluarga telah melekat sekali, dan telah mentradisi turun temurun. Ada sebagian pakar pendidikan agama, yang mengatakan pendidikan agama dimulai bahkan sejak mencari pasangan hidup. Sejak saat itu, seorang lelaki telah meniatkan akan mengawini wanita yang baik-baik, wanita shalihah”. Demikian pula sebaliknya.

Dari perkawinan, manusia memperoleh kebahagiaan hidup. Cinta kasih suami-isteri dan rasa sayang kepada anak, yang lahir sebagai buah perkawinan adalah fitrah manusia yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya. Sudah menjadi karakter manusia, setiap orang tua mendambakan anaknya menjadi anak yang shalih, taqwa dan berbudi, sejahat bagaimanapun dirinya. Mereka ingin anak mereka menjadi “bijeh mata” (qurrata a’yun). Karena itu mereka menikah tidak semata-mata melihat rupa (jamaliha), harta (maliha), dan kedudukan (nasabiha), bahkan kalau tiga yang pertama tidak terpenuhi semuanya, maka agama (diniha) harus dipenuhi, karena yang beragama akan menyelamatkan rumah tangga dan menyelamatkan generasi.


Sejak ibu mengandung, proses pendidikan agama itu, pada dasarnya telah terjadi. Seorang perempuan hamil harus menemukan kondisi psikhis yang membahagiakan, kondisi yang bebas dari depressi apalagi stress. Tumbuh-kembang fisik dan mental sejak jabang bayi sampai lahir, banyak ditentukan kondisi psikhis ibu dan makanan yang baik dan berkualitas serta halal, agar anak ketika jadi manusia dewasa tidak melahap apa saja.


Secara naluriyah, anak dalam kandungan dapat menerima sejumlah pengaruh dari luar apa saja perlakuan dan prilaku ibu-bapanya. Membaca al-Qur’an dan shalawat misalnya yang sering didengungkan oleh ibu bapanya, secara instinktif anak merespons dengan baik. Respons ini disebut respons instinktif. Begitu juga kondisi-kondisi tertentru dari ibunya sperti stress dan depressi dapat mempengaruhi kondisi jabang bayi dalam kandungnnya. Karena itu ketika seorang ibu mengandung dianjurkan untuk membaca al-Qur’an dan shalawat serta bentuk-bentuk zikir lainnya termasuk berprilaku positif untuk mempengaruhi scara positif calon generasi penerus di usia dalam kandungan tersbut.


Bila ia lahir, pertama yang diperbuat bapaknya adalah mengucapkan kalimat azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, agar suara dunia yang didengar pertama kali adalah suara tauhid dan seruan yang baik. Ia diberi nama yang baik, karena nama adalah do’a. Ia dicukur rambutnya, seraya melaksanakan aqiqah, sebagai rasa syukur sekaligus seakan ucapan selamat datang kepada buah hati tersayang. Ucapan itu disambut secara naluriyah dengan rasa cinta si bayi kepada orang tua, ia punya rasa ketergantungan kodrati dan kesetiaan alamiyah. Allah SWT berfirman : “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanKu kecuali kasih sayang dalam keluargamu” (Q.S : 42 : 23)


Allah SWT menganugerahkan kepada setiap manusia tiga rongga besar pada fisiknya, yaitu rongga otak, rongga perut, dan rongga dada. Rongga otak, sebagai radar penangkap ilmu Allah SWT melalui ayat-ayat Allah dalam kalam Allah dan ayat-ayat Allah dalam alam Allah. Menurut para ulama, ada 1000 ayat dalam al-Qur’an berbicara tentang bagaimana mengisi rongga otak ini sebagai generator penggerak akal yang memproduksi ilmu, baik ilmu duniawi maupun ilmu ukhrawi, yang diisi sejak dari ayunan sampai ke liang lahat.

Rongga perut, sebagai generator pembangkit energi eksternal, yang menggerakkan amal ibadah, perlu diisi dengan makanan yang halalan thayyiban mubarakan. Sedangkan rongga dada, sebagai pembangkit energi internal yang dapat mengangkat derajat manusia ke alam spritualitas ilahiyah, harus diisi dengan iman yang tangguh. Ada sekitar 3000 ayat menjadi sumber inspirasi pengembangan kecerdasan spiritual ini. Ada sekitar 2000 lagi ayat yang menjadi sumber inspirasi tentang akhlak. Ketiga rongga ini secara berangsur mulai dibina secara kontinu sejak anak lahir, bila ingin anak kita menjadi anak yang shalih.


Pada usia 1 sampai 7 tahun yang sering disebut fase balita, anak memiliki sifat imitative, sifat peniruan, yaitu mengikuti sepenuhnya apa yang didapatkan dari orang tua dan lingkungan. Rasulullah SAW bersabda : Tidak dilahirkan anak kecuali dalam keadaan fitrah beraqidah tauhid, maka orang tuanyalah yang meyahudikannya, atau menashranikannya, atau memajusikannya”


Karena itu, pendidikan pada fese ini diberikan sesempurna mungkin, karena apapun yang didapat dari usia ini, akan muncul ke permukaan ketika ia hidup dewasa dan mandiri. Seluruh tingkah laku dan gerak gerik ibu-bapanya, akan menjadi klise buat kehidupan anak. Ibarat komputer ayah-ibunya adalah operator dari operating systemnya komputer. Orang tua dan guru serta masyarakat siap menginstal dan memprogram hal-hal yang benar, bukan hal-hal yang membawa virus yang dapat merusak system tersebut. Bukan hanya ibu-bapanya, tetapi masyarakat lingkungan yang bergaul dengan dirinya akan memberi pengaruh juga, siapa yang paling menarik akan menjadi potret yang tersimpan dalam pembendaharaan rohani anak. Karena itu secara lebih konkrit Pendidikan Agama terus dikuatkan dengan mengajarkan al-Qur’an, dan praktek ibadah lainnya.

Dalam hal ini, faktor pembiasaan dan pemberian contoh yang baik merupakan kunci utama. Sangat berbahaya, ada orang tua yang tidak layak tiru, orang tua yang tidak shalat, orang tua yang tidak berpuasa ketika bulan ramadhan. Juga sangat berbahaya, anak yang menerima pengaruh dari pengasuh yang kurang taat dan awam dalam hal agama. Karena itu ibu-bapak, betapapun sibuknya tetap harus menyediakan waktu untuk memperhatikan anak dalam segala aspeknya. Mengurus negara adalah fardhu kifayah, banyak lagi orang yang mengurusnya, tetapi mengurus dan mendidik anak adalah fardhu a’in, dan tak ada orang lain yang mengurusnya. Seorang ulama mengatakan, ketika nanti di akhirat orang tua mau masuk syurga, anak menariknya dan minta hak mendidiknya dari orang tua.


Dalam hal ini peranan keluarga, sekolah dan masyarakat sangat menentukan. Keluarga merupakan sebuah ”negara kecil’ dan negara merupakan sebuah ”keluarga besar”. Dlam kaitannya dengan ketaatan beragama dan akhlak, terdapat empat tipologi keluarga yang disebutkan al-Qur’an. Ada keluarga sukses dan ada pula kelurga yang gagal. Pertama, tipe keluarga Abu lahap, yaitu keluarga yang mendapat celaan dari Allah SWT. Baik Abu Lahap maupun isterinya adalah sangat memusuhi Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin. Lebih kejam lagi Abu Lahap dan isterinya adalah tukang fitnah dan provokator yang sama-sama kufur kepada Allah. Kedua, tipe keluarga Fir’aun, dalam keluarga ini hanya suami yang ingkar kepada Allah SWT dan bahkan dia mengaku bahwa dirinya sebagai Tuhan, sementara isteri dan anaknya adalah orang yang taat kepada Allah SWT, meskipun keimanannya disembunyikan kepada suami. Ketiga, keluarga Nabi Nuh AS yang merupakan kebalikan dari keluarga Fir’un.

Dalam keluarga ini, hanya suami yang beriman yang taat, sedangkan isteri dan anaknya kufur dan mengingkari perintahNya. Akibatnya, baik isteri maupun anaknya harus berhadapan dengan azab Allah yaitu banjir besar. Ke empat, tipe keluarga Nabi Ibrahim AS dan keluarga Nabi Muhammad SAW. Kedua keluarga tersebut, baik suami dan isteri maupun anak-anak mereka adalah beriman dan sama-sama taat serta tunduk dan patuh kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. Seharusnya kita bercita-cita dan berusaha membina dan membangun keluarga seperti keluarga seperti keluarga Nabi Ibrahim AS dan keluarga Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini, baik suami, isteri maupun anak-anak adalah beriman dan tunduk kepada Allah SWT dan berakhlak mulia.


Anak terus bertumbuh-berkembang dan mencapai usia tamyiz atau usia mampu membedakan mana yang baik dan benarserta mana yang tidak, yaitu usia 7-12 tahun. Fase ini disebut fase objektif dan perhatian sedang tertuju pada dunia luar, disebut juga masa sosial pertama dan sedang mencari pribadi model sebagai idolanya. Pertumbuhan jiwa agama sangat dipengaruhi oleh teman-teman pergaulannya. Untuk fase ini dituntut orang tua dan guru agama yang simpatik, cakap dan berwibawa serta berwawasan luas. Karena itu Rasulullah SWT menganjurkan orang tua untuk mulai melatih shalat pada fase ini : “Suruhlah anak-anak shalat pada usia 7 tahun dan apabila ia sudah berumur 10 tahun, maka berilah simulasi dan keteladanan untuk melaksanakan shalat”.


Pendidikan agama ini diteruskan pada fase berikutnya yang disebut fase murahiqah, yaitu fase remaja, usia pubertas, masa aqil baligh berusia 12-18 tahun. Kalangan psikolog menyebutnya sebagai fase pancaroba. Pada fase ini, anak remaja mulai berkembang kemampuan berfikir abstrak, berfikir logis dan kritis, kehidupan batinnya bersifat rasional. Timbulnya gejala sturm and drang, masa pancaroba, yaitu semangat yang meluap-luap panas membara se-akan ingin merombak dunia. Karena itu isi pendidikan agama yang diberikan harus dengan pendekatan objektif dan rasional.

Banyak anak remaja yang sudut jiwanya kosong, disebabkan kurang kasih sayang, perhatian dan pendidikan agama di rumah tangga akan diisi oleh “idola gaulnya yang terkadang merusak perkembangan jiwanya”. Anak-anak akan mencari sosok idolanya di luar rumah sebagai kompensasi jiwanya. Sebagai anggota masyarakat, baik individual maupun kolektif, kita perlu memberikan keteladanan atau uswatun hasanah kepada generasi muda kita dalam semua aspek kehidupan. Yang jadi pertanyaan, masihkah profil masyarakat kita berfungsi sebagai wahana pendidikan generasi penerus, manakala setiap hari sebagian orang mempertontonkan ketidak jujuran, ketidak disiplinan, dan ketidaktaatan di hadapan anak-anak. Keteladanan seakan menjadi barang langka dalam masyarakat, bahkan di hadapan anak-anak kita, yang sedang menjalani suatu pencariaan idole tersebut. Sebagian komunitas telah tersandera dalam kemiskinan kultural dan moral.

Yang paling memprihatinkan ialah miskin kejujuran, miskin amanah dan miskin keteladanan. Prilaku orang dewasa, seperti prilaku kecurangan, plagiasi, prilaku tidak taat peraturan dan rambu-rambu lalu lintas, prilaku suka kepada barang syubhat dan bahkan yang haram, prilaku menyogok dan makan sogok, prilaku berpakaian tidak Islami, prilaku berkata bohong, omong kasar dan kekerasan, prilaku tidak disiplin, tidak menghargai orang lain, prilaku marah dan prilaku negative lainnya sering menjadi menu keseharian yang dikonsumsi secara psikologis oleh anak, tiap hari terjadi silih berganti dan diekspos media kerap menimbulkan kerapuhan pegangan nilai dalam diri anak, terutama bagi mereka yang tidak memiliki benteng moral yang kokoh disebabkan kurangnya pendidikan agama yang diterimanya.


Oleh karena itu setiap individu dalam masyarakat, baik orang tua, guru dan para pemimpin formal maupun informal harus memberikan keteladanan yang baiki bagi generassi muda kita, baik sisi keadilan, kebenaran terlebih lagi keteladanan dalam kejujuran.


Kita patut mengambil contoh interaksi edukatif atau al-‘alaqah al-tarbawi al-akhlaqi, antara orang tua dan anak yang paling cemerlang dalam sejarah kepemimpinan umat dan kepemimpinan keluarga Umar bin Abdil Aziz yang menjabat khalifah Umayyah tahun 717-720 M. Beliau merupakan seorang khalifah yang adil, jujur dan bijaksana, tetapi juga sosok ayah ideal yang selalu memberi keteladanan yang melegenda bagi anak beliau bahkan bagi generasi kita dewasa ini. Beliau terkenal dalam sejarah peradaban sebagai Mr. Clean dalam memerintah, tetapi juga seorang ayah teladan.

Masa pemerintahannya ditandai dengan kedamaian dan kemakmuran yang melimpah. Khalifah juga membuka diri untuk menerima saran konstruktif dari rakyatnya. Ia mencoba membersihkan pemerintahannya dari berbagai praktek kolusi, koeupsi dan nepotisme. Usahanya dimulai dari dirinya sendiri dan keluarganya.


Pada suatu malam. khalifah Umar sedang bekerja di ruang kantornya untuk memeriksa pembukuan dana baitul mal, harta kekayaan Negara. Beliau sedang menjalankan tugas Negara dalam aspek mekanisme Quality control system keuangan pemerintahannya. Ruangan kerja beliau diterangi lampu minyak sekedarnya : cukup terang untuk membaca buku, namun tidak terlalu terang layaknya sebuah kantor kepresidenan era modern sekarang ini. Ketika beliau sedang asyik membuka lembaran-demi lembaran laporan pembukuan keuangan tersebut, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.

Siapa di luar, Tanya khalifah tanpa membuka pintu. “Saya ayah” jawab anaknya. “Ada keperluan apa ananda?” , Tanya khalifah lagi. “Saya disuruh ibu untuk membicarakan beberapa masalah “, jelas anaknya. “Tolong ayah buka pintu, dan izinkan saya masuk”, mohon anaknya. Umar bin abdul Aziz mendekati pintu, namun sebelum ia membukanya, ia bertanya lagi “Apakah masaalah yang dibicarakan mengenai urusan keluarga, urusan Negara atau urusan masyarakat, anakku?” “Urusan keluarga, ayah”, kata anaknya.


Khalifah membuka pintu dan bergegas kembali ke ruang kerjanya untuk memadamkan satu-satunya lampu di kamarnya, sehingga ruang kerjanya menjadi gelap gulita. Melihat ruangan yang begitu gelap , anaknya menjadi heran. Ia bertanya dalam hati. “Masak berbicara dalam ruangan seperti ini. Apakah ayahku sudah bingung atau berubah ingatan? Ataukan ia sedang stress karena beban kerja yang terlalu berat, sehingga tindakannya menjadi aneh dan di luar kebiasaan orang waras?”.


Dengan rasa was-was, namun penuh hormat, pemuda itu bertanya kepada ayahnya : “Ayah, mengapa lampunya dipadamkan?” “Apalkah kita akan berbicara dalam gelap” Tanpa ragu Khalifah menjawab : “benar, anakku, kalau berbicara dalam kamar ini, kita akan berbicara dalam keadaan gelap , namun kalau kita berbicara di bawah sinar lampu, kita dapat berbicara di rumah” “Mengapa ayah, Tanya anaknya yang masih penasaran dan penuh keheranan. “Apakah kamu tahu kamar apa ini?”, Tanya khalifah. Anaknya menjawab “kamar kerja ayah” Khalifah bertanya lagi “Siapakah ayahmu”. Anaknya menjawab : “Amirul Mukminin, khalifah dan seorang kepala Negara”. (Sambil berdialog dengan ayahnya ia tambah semakin bingung serta mengira bahwa ayahnya telah mabuk kekuasaan).


Menyadari kebingunan anaknya, khalifah menjelaskan “Jawabanmu sungguh tepat. Ayahmu seorang kepala Negara dan ini adalah ruang yang kugunakan untuk memikirkan urusan rakyat dan kepentingan Negara. Karena lampu minyak yang ada di ruangan ini adalah juga dibiayai oleh Negara (melalui pajak yang disetor oleh rakyat), aku tidak mau menggunakannya untuk menerangi pembicaraan yang bersifat keluarga. Aku tidak mau menggunakan kesempatan untuk memanfaatkan fasilitas Negara”. Khalifah melanjutkan : “anakku, ketahuilah kekuasaan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT kelak di hari pembalasan”. Mendengar penjelasan ayahnya, pemuda itupun mengerti dan sujud mencium tangan ayahnya untuk menghormati kebesaran jiwa dan kejujuran hatinya.

Share this article :

0 coment:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. - Kontak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id
Copyright © 2014. Gema Baiturrahman Online - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template Editing by Saifuddin