Salah satu aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW yang kurang mendapat perhatian kepemimpinan beliau adalah di bidang bisnis dan kewirausahaan. Nabi Muhammad SAW merupakan figur yang tepat dijadikan sebagai teladan dalam bisnis dan perilaku ekonomi yang baik. Beliau tidak hanya memberikan tuntunan dan pengarahan tentang bagaimana kegiatan ekonomi dilaksanakan. Tetapi beliau mengalami sendiri bagaimana menjadi pengelola bisnis atau wirausaha. Kewirausahaan tidak terjadi begitu saja tetapi hasil dari suatu proses yang panjang dan dimulai sejak beliau masih kecil.
Rasulullah sendiri dalam melaksanakan bisnisnya, beliau memulai dengan kejujuran, keteguhan memegang janji dan sifat-sifat mulia lainnya. Jauh sebelum menjadi Rasul Muhammad SAW telah dikenal sebagai entrepreneur yang handal. Kemiskinan dan kegetiran hidup telah membentuk beliau menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.
“Jika kita ingin berbisnis atau berdagang itu harus jadikan Rasul kita Muhammad SAW sebagai panutan dalam berbisnis. Karena setiap muslim sepantasnya mengikuti jejak Rasul. Kita harus mempunyai sifat yang jujur dalam hal memulai suatu bisnis. Harus mempunyai sifat ketekunan, disiplin dan memang yang paling utama itu adalah jujur,” papar Irnanda, SE pengusaha Rumah Makan Al-Hidayat yang beralamat di Neusu kepada Gema (24/2).
Sementara itu menurut Drs. H. Muharrir Asy’ari MAg, dalam hal berdagang itu setiap orang harus mempunyai pola-pola berbisnis seperti Rasulullah yang dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam yang ingin menjadi entrepreneur muslim sejati, karena sifat-sifat Rasulullah yang dapat dipercaya (amanah), jujur (shiddiq), menyampaikan (tabliqh) dan cerdas (fathanah).
Lanjutnya, para pedagang harus mengambil sifat seperti sifat Rasulullah. Rasulullah berdagang karena sifatnya yang terkenal jujur. Nabi Muhammad menjalankan kerjasama dalam hal berbisnis itu dengan sistem upah maupun bagi hasil.
Menurut Muharrir yang juga penceramah tetap Masjid Raya Baiturrahman ini, Rasulullah pergi ke Syam itu pernah mengatakan kepada orang-orang yang ingin membeli dagangannya dengan menawarkan harga sekian persen dan sekian persen, tetapi Rasul menolaknya. Rasul mengatakan kepada orang tersebut bahwa Beliau akan memberikan semua dagangan kepada penduduk Madinah. Aku bagikan kepada semua penduduk Madinah yang waktu itu penduduk Madinah dalam kesusahan. “Jadi kalau orang berdagang mempunyai sifat jujur itu akan mudah, artinya membeli dan menjual pun mudah. Jika barangnya mahal sedikit itu wajar asalkan si penjual itu jujur dalam menjual barangnya,” terang Muharrir.

Beliau mulai berdagang sendiri di Mekkah. Mulai dari kecil-kecilan. Beli barang di pasar, lalu menjual kepada orang lain. Selain berdagang, Beliau juga berperan sebagai agen pebisnis kaya di Mekkah. Bersungguh-sungguh, kerja keras, jujur (Shiddiq) dan terpercaya (al Amin) prinsip yang beliau pegang.
Dalam hal berdagang juga dibutuhkan kemampuan berkomunikasi dan meyakinkan relasi atau pembeli. Ini ada pada sifat Rasul juga dalam hal menyampaikan. Teruslah bekerja keras. Karena Rasulullah SAW bersabda: “Pedagang yang amanah dan benar akan bersama dengan para syuhada di hari kiamat nanti” (HR. Ibnu Majah dan al-Hakim).
Demikian pula, dalam merayakan Maulid Nabi itu hanya sekedar seremonial saja yang kenduri besar-besaran. Sebenarnya sifat Rasulullah itu yang harus dicontohkan dan dikembangkan dalam sikap kehidupan umat Islam dalam berbagai aspek, termasuk dalam aspek bisnis.
Prinsip kejujuran dan amanah merupakan modal dasar Rasulullah dalam berdagang, sehingga membuat Khadijah merasa kagum. Saat itu sebagai janda kaya, Khadijah menaruh simpati karena kejujuran dan kerja keras Muhammad SAW. Bahkan kemudian Khadijah menikah dengan Rasulullah.
Adakah sifat jujur dan amanah melekat dengan pedagang masa sekarang. Karena ada di antara pedagang yang berani bersumpah bahwa dagangan bagus, padahal belum tentu seperti yang dikatakan kecuali untuk menjebak para pembeli. Seharusnya kita mencontoh perilaku Rasul dalam berdagang.
Rasulullah sendiri dalam melaksanakan bisnisnya, beliau memulai dengan kejujuran, keteguhan memegang janji dan sifat-sifat mulia lainnya. Jauh sebelum menjadi Rasul Muhammad SAW telah dikenal sebagai entrepreneur yang handal. Kemiskinan dan kegetiran hidup telah membentuk beliau menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.
“Jika kita ingin berbisnis atau berdagang itu harus jadikan Rasul kita Muhammad SAW sebagai panutan dalam berbisnis. Karena setiap muslim sepantasnya mengikuti jejak Rasul. Kita harus mempunyai sifat yang jujur dalam hal memulai suatu bisnis. Harus mempunyai sifat ketekunan, disiplin dan memang yang paling utama itu adalah jujur,” papar Irnanda, SE pengusaha Rumah Makan Al-Hidayat yang beralamat di Neusu kepada Gema (24/2).
Sementara itu menurut Drs. H. Muharrir Asy’ari MAg, dalam hal berdagang itu setiap orang harus mempunyai pola-pola berbisnis seperti Rasulullah yang dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam yang ingin menjadi entrepreneur muslim sejati, karena sifat-sifat Rasulullah yang dapat dipercaya (amanah), jujur (shiddiq), menyampaikan (tabliqh) dan cerdas (fathanah).
Lanjutnya, para pedagang harus mengambil sifat seperti sifat Rasulullah. Rasulullah berdagang karena sifatnya yang terkenal jujur. Nabi Muhammad menjalankan kerjasama dalam hal berbisnis itu dengan sistem upah maupun bagi hasil.
Menurut Muharrir yang juga penceramah tetap Masjid Raya Baiturrahman ini, Rasulullah pergi ke Syam itu pernah mengatakan kepada orang-orang yang ingin membeli dagangannya dengan menawarkan harga sekian persen dan sekian persen, tetapi Rasul menolaknya. Rasul mengatakan kepada orang tersebut bahwa Beliau akan memberikan semua dagangan kepada penduduk Madinah. Aku bagikan kepada semua penduduk Madinah yang waktu itu penduduk Madinah dalam kesusahan. “Jadi kalau orang berdagang mempunyai sifat jujur itu akan mudah, artinya membeli dan menjual pun mudah. Jika barangnya mahal sedikit itu wajar asalkan si penjual itu jujur dalam menjual barangnya,” terang Muharrir.

Suri Tauladan
Pada diri Rasulullah itu ada suri tauladan yang baik. Begitu juga masa-masa Beliau ketika berdagang. Pada Masa dulu, Rasulullah sebagai seorang remaja yang punya keinginan kuat, Nabi Muhammad tidak mau jadi tanggungan sang pamannya.Beliau mulai berdagang sendiri di Mekkah. Mulai dari kecil-kecilan. Beli barang di pasar, lalu menjual kepada orang lain. Selain berdagang, Beliau juga berperan sebagai agen pebisnis kaya di Mekkah. Bersungguh-sungguh, kerja keras, jujur (Shiddiq) dan terpercaya (al Amin) prinsip yang beliau pegang.
Dalam hal berdagang juga dibutuhkan kemampuan berkomunikasi dan meyakinkan relasi atau pembeli. Ini ada pada sifat Rasul juga dalam hal menyampaikan. Teruslah bekerja keras. Karena Rasulullah SAW bersabda: “Pedagang yang amanah dan benar akan bersama dengan para syuhada di hari kiamat nanti” (HR. Ibnu Majah dan al-Hakim).
Demikian pula, dalam merayakan Maulid Nabi itu hanya sekedar seremonial saja yang kenduri besar-besaran. Sebenarnya sifat Rasulullah itu yang harus dicontohkan dan dikembangkan dalam sikap kehidupan umat Islam dalam berbagai aspek, termasuk dalam aspek bisnis.
Prinsip kejujuran dan amanah merupakan modal dasar Rasulullah dalam berdagang, sehingga membuat Khadijah merasa kagum. Saat itu sebagai janda kaya, Khadijah menaruh simpati karena kejujuran dan kerja keras Muhammad SAW. Bahkan kemudian Khadijah menikah dengan Rasulullah.
Adakah sifat jujur dan amanah melekat dengan pedagang masa sekarang. Karena ada di antara pedagang yang berani bersumpah bahwa dagangan bagus, padahal belum tentu seperti yang dikatakan kecuali untuk menjebak para pembeli. Seharusnya kita mencontoh perilaku Rasul dalam berdagang.
eriza

0 coment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !