Headlines News :
Home » » Mengenal Shalat Istisqa’

Mengenal Shalat Istisqa’

Written By MAHA KARYA on Friday, February 26, 2010 | 2/26/2010

Shalat istisqa adalah shalat sunnat yang dilakukan sebagai permohonan kepada Allah untuk meminta hujan. Shalat ini dilakukan bila terjadi kemarau panjang atau karena dibutuhkannya hujan untuk keperluan tertentu. Shalat istisqa’ ini dilakukan secara berjama’ah dengan dipimpin oleh seorang imam.

Ada tiga cara pelaksanaan Shalat Istisqa’. Pertama, dengan berdoa saja di mana pun dan kapan pun dengan suara nyaring atau pelan. Ini disandarkan pada hadits dari Anas bahwa Umar Radliyallaahu ‘anhu bila orang-orang ditimpa kemarau ia memohon hujan dengan tawasul (perantaraan Abbas Ibnu Abdul Mutholib. Ia berdoa: Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu memohon hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, lalu Engkau beri kami hujan, dan sekarang kami bertawasul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan. Lalu diturunkan hujan kepada mereka [HR. Bukhari]

Kedua, dilakukan pada hari Jum’at dengan menambahkan doa istisqa (mohon turunnya hujan) pada khutbah Jumat. Ini berdasarkan hadits Muttafaq Alaihi yang berbunyi, “dari Anas bahwa ada seorang laki-laki masuk ke masjid pada hari Jum’at di saat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdiri memberikan khutbah, lalu orang itu berkata: Ya Rasulullah, harta benda telah binasa, jalan-jalan putus, maka berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan kita hujan. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah turunkanlah hujan pada kami, ya Allah turunkanlah hujan kepada kami.” Lalu dia meneruskan hadits itu dan didalamnya ada doa agar Allah menahan awan itu.”


Dan ketiga, dengan shalat dua rakaat yang disertai dengan dua khutbah. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu : Bahwa orang-orang mengadu kepada Rasulullah tentang tidak turunnya hujan. Beliau menyuruh mengambil mimbar dan meletakkannya di tempat sholat, lalu beliau menetapkan hari dimana orang-orang harus keluar.

Beliau keluar ketika mulai tampak sinar matahari. Beliau duduk di atas mimbar, bertakbir dan memuji Allah, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian telah mengadukan kekeringan negerimu padahal Allah telah memerintahkan kalian agar berdoa kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkan doamu.


Lalu beliau berdoa, segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang merajai hari pembalasan, tidak ada Tuhan selain Allah yang melakukan apa yang Ia kehendaki, ya Allah Engkaulah Allah tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahakaya dan kami orang-orang fakir, turunkanlah pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama.”

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya terus menerus hingga tampak warna putih kedua ketiaknya, lalu beliau masih membelakangi orang-orang dan membalikkan selendangnya dan beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap orang-orang dan turun, lalu sholat dua rakaat. Lalu Allah mengumpulkan awan, kemudian terjadi guntur dan kilat, lalu turun hujan. Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Hadits ini gharib dan sanadnya baik.

Tata Cara
Secara umum, terdapat beberapa tata cara dalam melakukan shalat Istisqa’. Tiga hari sebelum shalat istisqa’, imam atau ulama memerintahkan kaumnya untuk berpuasa selama tiga hari, dan menganjurkan untuk beramal shaleh, seperti sedekah, tobat dari segala dosa, beradamai dengan musuh, dan melepaskan diri dari kezaliman.

Lalu pada hari keempat, yaitu pada hari dimana shalat Istisqa’ hendak dilakukan, semua penduduk diseru agar keluar rumah. Bahkan, binatang ternak pun dikeluarkan ke tanah lapang ketika shalat istisqa. Waktu keluar rumah menuju tanah lapang adalah ketika matahari bersinar, sebaiknya memakai pakaian sederhana dan tidak memakai wewangian serta tidak berhias. Selama perjalanan, sangat dianjurkan untuk memperbanyak istighfar.


Kemudian imam memimpin shalat dengan lafaz niat, Ushallii sunnatal-istisqaa’I rak’ataini imaaman lillaahi ta’aalaa. Allahu Akbar. Yang Artinya: “Aku niat shalat sunah istisqa’ dua rakaat (jadi imam/makmum) karena Allah Ta’ala. Allahu akbar.”

Shalat istisqa’ ini dilaksanakan dalam dua raka’at. Tidak ada aturan khusus terkait ayat yang harus dibaca selama shalat. Lalu setelah salam, khatib membaca dua khutbah dengan ciri sebagai berikut: Khatib disunahkan memakai selendang. Pada khutbah pertama hendaknya membaca istigfar 9 kali sedangkan pada khutbah kedua 7 kali. Khutbahya berisi anjuran unutk beristigfar dan merendahkan diri kepada Allah, serta yakin bahwa Allah akan mengabulkan tutunnya hujan. Ketika berdoa mengangkat kedua belah tangan.

Pada khutbah kedua, di kala berdoa hendaknya khatib berpaling ke arah kiblat dan membelakangi makmum. Ketika berpaling ke arah kiblat, khatib hendaknya mengubah selendangnya dari kanan ke kiri dan yang di atas ke bawah. Menurut riwayat Daruquthni dari hadits mursal Abu Ja’far al-Baqir: membalikkan selendang itu dimaksudkan agar musim kemarau berganti (dengan musim hujan).

Adapun soal kapan hujan akan turun, tidaklah satu manusia pun tahu akan hal ini. Shalat Istisqa’ hanya sebentuk ikhtiar yang dilakukan oleh manusia dan ini telah dicontohkan oleh Rasul. Wallahua’lam bisshawab. riza rahmi
Share this article :

0 coment:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. - Kontak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id
Copyright © 2014. Gema Baiturrahman Online - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template Editing by Saifuddin