Headlines News :
Home » » Harmonisasi Kehidupan Bermasyarakat

Harmonisasi Kehidupan Bermasyarakat

Written By MAHA KARYA on Friday, December 2, 2011 | 12/02/2011


Oleh : Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA
Dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 30 Allah SWT berfirman: Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Berdasarkan ayat di atas, Allah SWT menciptakan manusia agar dapat menjadi kalifah di muka bumi. Jika manusia telah mampu menjalankan fungsi tersebut dengan baik, maka tugas manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik.

Ada dua peranan penting manusia sebagai khalifah di permukaan bumi ini yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat. Pertama, memakmurkan bumi (al-‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar-ri’ayah).

Manusia mempunyai kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT. Manusia harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya kepada umat manusia. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata, dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu.

Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). Memelihara dari kebiasaan jahiliyah, yaitu merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat. Karena sumber daya manusia yang rusak akan sangat potensial merusak alam.

Mengapa Allah memerintahkan umat Nabi Muhammad SAW untuk memelihara bumi dari kerusakan? karena sesungguhnya manusia lebih banyak yang membangkang dan condong berbuat salah dibanding yang berbuat shaleh sehingga manusia akan cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah terjadi pada masa nabi-nabi sebelum nabi Muhammad SAW dimana umat para nabi tersebut lebih senang berbuat kerusakan dari pada berbuat kebaikan, misalnya saja kaum bani Israil.

Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan menjalankan fungsi sebagai khalifah di muka bumi dengan tidak melakukan pengrusakan terhadap alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dalam Islam begitu banyak ajaran-ajaran yang menganjurkan tentang harmonisasi sesama ummat manusia yang dalam hal ini adalah masyarakat, di antaranya adalah: Sikap saling tolong menolong. Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 2 yang berbunyi: Artinya: ...dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Saling memberikan kasih sayang dan saling berdamai. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Hujarat ayat 10 yang berbunyi: Artinya: Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Toleransi beragama. Konsep toleransi dalam Islam yang secara definisi Islam adalah “damai”, “selamat” dan “menyerahkan diri”, sehingga Islam sering dirumuskan dengan istilah “Islam agama rahmatal lil’âlamîn” (agama yang mengayomi seluruh alam). Ini berarti bahwa Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan. Dalam al-Qur’an Allah berfirman yang artinya, “dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”.

Dan masih banyak ayat-ayat al-Qur’an lain yang menganjurkan kepada kita untuk senantiasa selalu menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam dalam hal menjaga dan meningkatkan keshalehan sosial dalam memelihara keharmonisan sesama masyarakat.

Kondisi saat ini
Melihat kondisi umat Islam hari ini mungkin kita patut bersedih, konflik antar sesama terus terjadi, coba kita saksikan bagaimana negara-negara non Islam menghancurkan negara-negara berbasis Islam dengan berbagai macam pola dan strategi untuk memporak-porandakan Islam, seperti yang terjadi di negara Libya, Sudan, Mesir, Palestina, Irak, Afganistan, Pakistan, Iran, Maroko dan lain sebagainya.

Kemudian belum lagi perselisihan antara kaum sunni dan syiah di beberapa negara Islam seperti di Irak, Palestina, Yaman dan lain sebagainya. Sungguh kita sebagai kaum muslimin patut menangis dan menyesali hari ini dengan musibah yang menimpa saudara-saudara kita di sana.

Begitu juga yang terjadi di Indonesia, persoalan utama yang selalu terjadi dapat kita lihat dalam penentuan awal puasa ramadhan yang diikuti oleh penentuan idul fitri, persoalan ini hampir selalu menjadi bahan perselisihan dan perbedaan yang lazimnya terjadi pada ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah dan lain sebagainya, selanjutnya persoalan-persoalan furu’ seperti jumlah raka’at shalat tarawih, persoalan qunut dan lain sebagainya. Semua ini sangat sering menjadi masalah dalam masyarakat muslim yang akhirnya dapat memecah belah umat. Sehingga mengakibatkan nilai-nilai keharmonisan itu hilang antar sesama ummat.

Begitu juga halnya yang kita saksikan di Aceh sebagai bumi Serambi Mekkah dan berstatus Syari’at Islam, begitu banyak kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam (membawa bendera Islam) mengklaim bahwa dirinyalah yang terbaik, yang paling benar dan yang sangat kita sesali begitu mudah mengkafirkan kelompok lain demi kepentingan tertentu. Ini menunjukkan bahwa begitu lemah pemahaman kita dalam mengamalkan ajaran dan nilai-nilai keislaman.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Abu Ummah al-Bahuli r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Saya dapat menjamin suatu rumah di kebun surga untuk orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia benar. Dan menjamin suatu rumah dipertengahan surga bagi orang yang tidak berdusta, mekipun bergurau. Dan menjamin suatu rumah dibahagian yang tinggi dari surga bagi orang yang baik budi pekertinya”. Dari hadis ini jelas sekali Rasul sangat menginginkan adanya sebuah perdamaian, saling menghargai dan menghormati antara sesama ummatnya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antar sesama ummat beragama.

Islam hadir bukanlah menjadi agama teroris sebagaimana yang diklaim oleh Barat hari ini, Islam bukan agama yang melanggar HAM dan Islam bukanlah agama yang identik dengan kekerasan. Justru Islam hadir sebagai pembawa kedamaian, kenyamanan dan sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Akhirnya, kita berharap bagaimana umat Islam dapat membangun spiritual baru dan pengembangan etika dalam suatu agama yang lebih mendukung pada perdamaian dan penyelesaian masalah secara nirkekerasan. Kita sebagai umat Islam harus benar-benar dapat mengembangkan dan mempraktekkan nilai-nilai toleransi antar sesama, saling tolong menolong, menjauhkan diri dari perbuatan fitnah, dan terus menjaga keharmonisan baik dengan Allah SWT sebagai pencipta maupun antar sesama masyarakat sebagai bentuk keshalehan sosial.
Khatib Rektor IAIN Jamiah Ar Raniry
Share this article :

0 coment:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. - Kontak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id
Copyright © 2014. Gema Baiturrahman Online - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template Editing by Saifuddin