Wawancara : Tgk Zainuddin M.Ag, Ketua Panitia Muzakarah Ulama se Asean
Cerita awal inisiatif muzakarah ulama se Asean?
Bermula saat pengajian keagamaan bersama Syekh Amran Wali yang sudah sampai ke
Malaysia. Di Trengganu, Malaysia, ada murid keturunan dari Syekh Abdul Malik. Syekh Abdul Malik itu pernah belajar pada Syekh Syiah Kuala.
Jadi, pada suatu dialog muncul keinginan mereka untuk mengurus kembali masa kejayaan Islam di Asia Tenggara. Mereka ingin mengembalikan masa kejayaan itu pada dasarnya. Lalu pada Maret 2009, mereka bersepakat untuk mengadakan Muzakarah.
Awalnya Syekh Amran Wali menolak acara di Aceh dengan alasan tidak cukup dana. Beliau pun bimbang akan pertemuan besar sedangkan pertemuan kecil pun belum pernah terjadi. Tapi, kata orang Malaysia, mereka akan bayar sendiri dengan mengumpulkan uang sendiri. Maka terselenggaralah acara tersebut.
Siapa saja yang hadir?
Yang hadir itu pada umumnya para Ulama. Kalau dari Malaysia ada ulama-ulama yang punya hubungan Tarikat Syattari/Syattariyah, yang punya asal usul, mereka juga keturunan asli Syekh Abdul Malik. Jumlah mereka yang hadir ke Aceh kurang lebih tiga ratusan. Ada yang dari Sulawesi, Surabaya, Jakarta, kota-kota Sumatera, bahkan Habib Yaman pun hadir.
Apa yang menjadi bahasan inti dari muzakarah itu ?
Ada bahasan tentang peran ulama dalam pembangunan ummat, kedudukan Qanun Aceh dalam sistem kenegaraan. Dalam setting awalnya hanya untuk membangun jaringan silaturrahmi ulama se Asean, tapi kemudian muncul agenda lain berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam yang lebih menyeluruh.
Kelanjutan dari pertemuan ini?
Kita memang berkeinginan agar acara ini berkelanjutan. Sehingga ditemukan kemudian bagaimana mengatasinya minimnya dakwah yang berkembang, minimnya pendidikan sosial. Bahkan sebutlah upaya tolong menolong dan ada silaturrahmi lagi seperti hubungan berjaringan sesama muslim Asia.
Terakhir, Apa harapan anda?
Harapan saya pasca muzakarah, agar muslim itu dapat menerima perbedaan-perbedaan muslim lainnya. Walaupun berbeda situasi, kita orang Islam itu tetap istiqamah, kompak, tidak curiga mencurigai, selalu memberi yang terbaik untuk ummat dan dia harus berhati-hati dalam menerima sebuah berita.
Awal Maret 2010, di Meulaboh Aceh Barat berlangsung Muzakarah Ulama Asean. Banyak hal yang diputuskan untuk posisi sharing ulama dalam kemashlatan ummat. berikut wawancara Ridha Yunawardi dengan Tgk Zainuddin M.Ag, Ketua Panitia Muzakarah Ulama Asean.
Cerita awal inisiatif muzakarah ulama se Asean?
Bermula saat pengajian keagamaan bersama Syekh Amran Wali yang sudah sampai ke

Malaysia. Di Trengganu, Malaysia, ada murid keturunan dari Syekh Abdul Malik. Syekh Abdul Malik itu pernah belajar pada Syekh Syiah Kuala.
Jadi, pada suatu dialog muncul keinginan mereka untuk mengurus kembali masa kejayaan Islam di Asia Tenggara. Mereka ingin mengembalikan masa kejayaan itu pada dasarnya. Lalu pada Maret 2009, mereka bersepakat untuk mengadakan Muzakarah.
Awalnya Syekh Amran Wali menolak acara di Aceh dengan alasan tidak cukup dana. Beliau pun bimbang akan pertemuan besar sedangkan pertemuan kecil pun belum pernah terjadi. Tapi, kata orang Malaysia, mereka akan bayar sendiri dengan mengumpulkan uang sendiri. Maka terselenggaralah acara tersebut.
Siapa saja yang hadir?
Yang hadir itu pada umumnya para Ulama. Kalau dari Malaysia ada ulama-ulama yang punya hubungan Tarikat Syattari/Syattariyah, yang punya asal usul, mereka juga keturunan asli Syekh Abdul Malik. Jumlah mereka yang hadir ke Aceh kurang lebih tiga ratusan. Ada yang dari Sulawesi, Surabaya, Jakarta, kota-kota Sumatera, bahkan Habib Yaman pun hadir.
Apa yang menjadi bahasan inti dari muzakarah itu ?
Ada bahasan tentang peran ulama dalam pembangunan ummat, kedudukan Qanun Aceh dalam sistem kenegaraan. Dalam setting awalnya hanya untuk membangun jaringan silaturrahmi ulama se Asean, tapi kemudian muncul agenda lain berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam yang lebih menyeluruh.
Kelanjutan dari pertemuan ini?
Kita memang berkeinginan agar acara ini berkelanjutan. Sehingga ditemukan kemudian bagaimana mengatasinya minimnya dakwah yang berkembang, minimnya pendidikan sosial. Bahkan sebutlah upaya tolong menolong dan ada silaturrahmi lagi seperti hubungan berjaringan sesama muslim Asia.
Terakhir, Apa harapan anda?
Harapan saya pasca muzakarah, agar muslim itu dapat menerima perbedaan-perbedaan muslim lainnya. Walaupun berbeda situasi, kita orang Islam itu tetap istiqamah, kompak, tidak curiga mencurigai, selalu memberi yang terbaik untuk ummat dan dia harus berhati-hati dalam menerima sebuah berita.

0 coment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !