Headlines News :
Home » » Jihad Bukan Hanya dengan Senjata

Jihad Bukan Hanya dengan Senjata

Written By MAHA KARYA on Monday, March 22, 2010 | 3/22/2010

Wawancara Dr. T. Safir Iskandar Wijaya, MA, Dosen IAIN Ar-Raniry


Dalam beberapa waktu terakhir, kata jihad kembali muncul dan disebut-sebut oleh jamak pihak. Terutama dikaitkan dengan isu terorisme yang sudah merambah wilayah Aceh. Benarkah jihad identik dengan pekerjaan terror meneror? Simak wawancara Eriza dengan Dr.T. Safir Iskandar Wijaya, MA, Dosen IAIN Ar-Raniry.


Apa makna jihad yang sesungguhnya?
Menurut Al-Quran, jihad bukan hanya dalam pengertian berperang, tetapi juga bagaimana kita melakukan sesuatu secara sungguh-sungguh. Contohnya di waktu orang ingin mendirikan shalat, kemudian dia punya tekad dengan sebaik-baiknya agar shalat itu bisa diterima oleh Allah. Kesungguhan untuk melaksanakan shalat secara sempurna inilah bagian dari jihadnya.
Kemudian, setiap orang yang sungguh-sungguh mentaati rambu-rambu dalam masyarakat juga dikatakan jihad. Karena semuanya untuk mencari kehidupan yang berbahagia. Dalam Negara juga begitu, ada aturan-aturan yang harus dipenuhi oleh rakyat untuk kehidupan bersama dalam masyarakat. Itu juga di katakan jihad.
Jihad juga dalam pengertian mencari pengetahuan dan mengembangkannya. Seseorang yang menuntut pengetahuan agama, kalau dia berusaha memberikan sesuatu kepada masyarakat dari pengetahuan yang di pelajarinya juga dikatakan jihad.
Jadi jihad bukan hanya perang?
Nilai dan makna jihad tidak hanya satu, tidak hanya mengangkat senjata, tidak hanya memerangi orang-orang yang diluar Islam dan juga tidak hanya memerangi siapa saja yang kita pandang berbeda pandangan dengan kita. Jihad itu untuk membangun kemaslahatan.
Banyak teks Al-Qur’an yang mengajak berperang. Tapi berperang disini bukan hanya semata-mata berperang fisik, tetapi juga berperang intelektual, berperang opini, berperang pandangan yang semua dibangun secara rasional. Ini semua untuk kemaslahatan. Jihad dalam Al-Qur’an itu ujung-ujungnya adalah kemaslahatan, kedamaian, dan ketentraman.

Lalu kenapa jihad seakan-akan hanya perang angkat senjata?

Pengertian di atas adalah jihad dalam pengertian yang luas. Siapa saja boleh memberikan pandangan tentang jihad. Ada yang mengambilnya dalam dimensi tekstualis ada yang mengambilnya dalam dimensi kontekstualis. Yang penting kata kuncinya, jihad itu tetap mengantarkan manusia untuk membangun kesungguhan, untuk membangun dirinya sendiri, masyarakat dan negara dalam rangka mahabbah dan dalam rangka keridhaan Allah.

Bagaimana jika jihad itu diaktualisasikan di era sekarang?
Kita harus lihat dari berbagai dimensi. Misalnya Aceh dengan terjadinya musibah tanggal 26 Desember 2004, itu titik awal dari perubahan yang harus kita bangun untuk sampai pada perubahan yang maksimal. Itu juga dikatakan jihad. Apa-apa yang harus dilakukan, tidak boleh ada anak yang terlantar, tidak boleh ada anak yang tidak sekolah, tidak boleh ada masyarakat yang menderita sakit, tidak boleh ada masyarakat yang terus menerus dalam kemiskinan.
Pengawasan dari pemerintah, pengawasan dari pribadi juga dikata jihad. Jihad ingin menjadi masyarakat yang baik. Kita bisa lihat misalnya dalam hadist yang diriwayatkan oleh Turmuzi, salah satunya juga memberikan fatwa, memberikan pandangan untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Sehingga Nabi juga pernah berkata Antum ‘alamu bi umurit dunyakum, kamu akan lebih mengetahui persoalan-persolan yang kamu hadapi dalam kehidupan masalah kamu.
Maka jihad juga untuk melakukan perubahan masyarakat menuju masyarakat yang baldhah, thoibah, maghfirah dan sebagainya. Semua orang bisa menafsirkan makna jihad. Tapi untuk menafsirkan ini dibutuhkan titik sentralnya. Bahwasannya Islam ini diturunkan dengan konteks-konteks ayatnya sebagai rahmatan lil’alamin.

Apa prinsip-prinsip dari jihad?
Prinsip jihad itu yang pertama ada kemauan diri sendiri dulu untuk melakukan perubahan. Yang kedua ada modal. Modal itu tidak hanya harta, modal itu termasuk ilmu pengetahuan, masyarakat dan keluarga. Termasuk pemikiran untuk melakukan perubahan.

Apakah jihad bisa menghalangi perkembangan Islam?
Tidak. Jihad dalam pengertian luas tidak akan menghalangi perkembangan syariat selama makna jihad ini dipahami dalam konteks yang rasional. Islam sudah tunduk dan patuh kepada aturan-aturan yang sudah digariskan oleh Allah dan digariskan oleh masyarakat sendiri.
Dulu misalnya, kenapa Islam berkembang, karena mereka melakukan jihad dengan sungguh-sungguh. Jihad kaum intelektual adalah meneliti, mengembangkan pikirannya, menulis buku dan dibaca oleh orang lain sehingga terjadi diskusi dan muncul lagi pikiran-pikiran lain, itu juga jihad dalam mengembangkan Islam. Jadi, selama jihad dipahami dalam pengertian yang luas, jihad tetap akan mengembangkan Islam.
Share this article :

1 comment:

Saran Masukan silahkan Anda kirim. Redaksi amat senang menerimanya.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. - Kontak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id
Copyright © 2014. Gema Baiturrahman Online - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template Editing by Saifuddin