Oleh: Drs. Tgk. H. Abd. Gani Isa, SH, M.Ag
"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.(Q, Luqman:10)
Allah Swt, sebagai khaliq pencipta alam semesta, Dia yang telah menciptakan langit, bumi dengan segala isinya. Dan semua ciptaan itu adalah milik-Nya. Dia memiliki nama-nama yang mulia, Maha Pengasih dan Penyayang kepada seluruh makhluqnya. Tidak kurang dari 99 nama-Nya yang mulia yaitu Asmaul Husna" disebutkan dalam al-Qur'an.
Dalam hubungan ini, menarik kita simak kembali apa yang dikatakan oleh "al-Farabi". Untuk memahami wujud dan keberadaan Allah di jagat raya ini bisa melalui ayat- ayat Allah di alam semesta ini, yaitu melalui ayat-ayat qur'aniyah dan ayat-ayat kauniyah. Menurut al-Farabi ayat qur'aniyah dinamakan dengan "al-kutub as-saghir"(kitab yang kecil), itulah kitab al-qur'an yang 30 juz, yang ada bersama umat Islam, dan diyakini sebagai kitab sucinya.
Melalui ayat-ayat qur'aniyah kita bisa melihat, bisa membaca, dan bisa kita suarakan, sekaligus kita bisa memahaminya dengan baik, berkaitan adanya perintah amar makruf dan nahi munkar. Seperti perintah mendirikan salat lima waktu (aqimis salah), membayar zakatfwo atuz zakah),, melaksanakan ibadah haji (walillah 'alannasi hijjul baiti) dan lainnya, juga kita dilarang untuk tidak melakukan sesuatu seperti, larangan mencuri(Q, al-Maidah:38), dilarang mengkomsumsikan narkoba dan seluruh jenis makanan dan minuman yang memabukkan(Q, al-Maidah:90), dilarang melakukan khalwat dan zina(Q, al-Nur:2), dilarang membunuh(Q, al-Nisak:92), dilarang membuka aurat dan lainnya.

Adapun ayat-ayat kauniyah, dinamakan juga dengan "al-kutub al-kabir"(kitab yang besar), ayat-ayat yang dihamparkan Allah seluas bumi dan langit kepada manusia. inilah yang dimaksudkan dengan sunnatullah. Ayat-ayat kauniyah tidak bisa bersuara, dan tidak bisa disuarakan, ia bisu dalam keadaan dan peristiwa. Tetapi sidang jamaah yang dirahmati Allah, di dalamnya sarat dengan makna dan ribuan nilai rahasia Allah, penuh isyarat dengan berbagai hikmah, yang tidak begitu mudah diketahui oleh manusia, seperti diisyaratkan al-Qur'an dalam surat al-Isra' ayat, 44:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah, dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka . Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
Pada umumnya manusia tidak memahami dan tidak mau tahu dengan ayat-ayat kauniyah yang dihamparkan Allah di alam semesta ini. Kadangkala manusia angkuh, bersikap kasar dan menzaliminya, dengan merusak alam ini, menguras hasil bumi tanpa henti, Membabat hutan tanpa hati nurani, lautpun dicemari, sehingga bisa berpengaruh pada keseimbangan planet, sebagai sunnatullah di alam ini, bahkan berdampak pada perubahan iklim yang sangat serius dengan suhu semakin panas di bumi. Para ahli lingkungan membuat estimasi, bahwa dalam waktu yang tidak lama, semua species semakin sulit tinggal di bumi, bila manusia tidak mau meghentikan sifat ketamakan dan kerakusannya, seperti diingatkan Allah dalam firman-Nya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. al-Rum:41).
Bumi ini sebagai salah satu planit diciptakan Allah, merupakan tempat hunian manusia yang sangat nyaman. Namun harus pula dipahami, bahwa bumi memiliki dua fungsi, seperti dijelaskan Ibnul Qayyim, bisa berfungsi sebagai rahmat dan bisa pula sebagai bencana.
Ketika bumi berfungsi sebagai rahmat, manusia jadi besar dan hebat di hadapan alam. Beragam temuan ilmiah dan teori dipublikasikan, seolah-olah ia mampu mengatur angin dan udara, air yang cukup dan disterilkan dari berbagai kuman, tanah diolah, menjadi subur sehingga memberi barakah rizkinya. Tetapi bila bumi berfungsi bencana, manusia jadi kecil di hadapan alam ini. Semua teorinya yang selama ini dibanggakan jadi tidak berfungsi. Angin topan tidak mampu di tahan, ia akan menghantam apa saja yang melintangnya, banjir tidak bisa dikendalikan, berbagai penyakit dan wabah terus terjadi dan sulit diatasi, apalagi gempa dan tsunami, membuat manusia pasrah, tidak berdaya. Tidak pernah bumi memberitahukan akan terjadi gempa, demikian pula laut tidak pernah memberi informasi bahwa tsunami akan datang.
Al-Qur'an dalam berbagai ayat mengungkapkan fenomena alam tersebut, seperti terdapat dalam surat al-Qamar(ll), al-Rahman(37), al-Haqqah(16), al-Ma'arij(S), al-Mursalat(9), an-Naba"(19), dan al-Takwir(ll). Dari ketujuh ayat tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua hal yaitu" jika langit terbelah" dan "jika langit menjadi lemah".

Ide dasar pertama dipahami terjadinya pemanasan global bumi dengan terkoyaknya lapisan ozon, sehingga sinar ultraviolet bisa mengganggu, bahkan dalam kondisi tertentu bisa mematikan species di bumi, sedangkan ide dasar kedua, dengan terjadinya pemanasan global, "langit terbelah:, maka fungsi ekologis langit akan menurun, bahkan jika penurunan tersebut secara radikal maka akan berdampak terjadinya berbagai kerusakan dan kehancuran di bumi ini, yang diistilahkan dengan "kiamat", seperti diisukan kerusakan besar akan terjadi pada tahun 2012 , yang dalam istilah agama disebut dengan "kiamat sughra". Bumi semakin sering bergoncang, gempa bumi semakin sering terjadi, dan terakhir di Haiti dan Chili, mungkin juga akan terulang di Serambi Makkah ini, bila manusianya melupakan Tuhan-Nya.
Informasi al-Qur'an dengan segala ayat-ayat Allah di jagat raya ini memberi makna kepada kita, betapa kemahabesaran Allah dengan segala ciptaan-Nya/ Karena itu manusia dalam mencari karunia Tuhan tidak boleh angkuh dan sombong, tetapi tetap dalam batas-batas mencari keridaan-Nya, dengan prinsip" halalan tayyiba", di samping "amanah dan keikhlasan" Sedapat mungkin manusia dalam akfivitasnya, berupaya menolak segala bentuk kerusakan (al-fasad), dengan mengutamakan maslahah (wala tufsidu ba'da islahiha), janganlah kamu melakukan kerusakan setelah Allah memperbaikinya.(Q, al-Qashas:77)., sebuah kaidah juga menyebutkan: dar ul mafasid muqaddam 'ala jalbil masalih ( menolak kerusakan harus lebih diutamakan daripada mewujudkan kemaslahatan).
Mari kita wujudkan suasana nyaman, ramah lingkungan dan rahmatan HI 'alamin, baik di rumah, di jalan, di kantor.di pasar dan di manapun kita berada. Dengan demikian alam semakin dekat bersahabat dengan kita, dan Insya Allah rahmat-Nya pun selalu barakah di bumi sebagai tempat hunian manusia dengan seluruh makhluk-Nya, bahkan bencana akan terhindar dari kita semua, Amin Ya Rabbal alamin.
Dalam hubungan ini, menarik kita simak kembali apa yang dikatakan oleh "al-Farabi". Untuk memahami wujud dan keberadaan Allah di jagat raya ini bisa melalui ayat- ayat Allah di alam semesta ini, yaitu melalui ayat-ayat qur'aniyah dan ayat-ayat kauniyah. Menurut al-Farabi ayat qur'aniyah dinamakan dengan "al-kutub as-saghir"(kitab yang kecil), itulah kitab al-qur'an yang 30 juz, yang ada bersama umat Islam, dan diyakini sebagai kitab sucinya.
Melalui ayat-ayat qur'aniyah kita bisa melihat, bisa membaca, dan bisa kita suarakan, sekaligus kita bisa memahaminya dengan baik, berkaitan adanya perintah amar makruf dan nahi munkar. Seperti perintah mendirikan salat lima waktu (aqimis salah), membayar zakatfwo atuz zakah),, melaksanakan ibadah haji (walillah 'alannasi hijjul baiti) dan lainnya, juga kita dilarang untuk tidak melakukan sesuatu seperti, larangan mencuri(Q, al-Maidah:38), dilarang mengkomsumsikan narkoba dan seluruh jenis makanan dan minuman yang memabukkan(Q, al-Maidah:90), dilarang melakukan khalwat dan zina(Q, al-Nur:2), dilarang membunuh(Q, al-Nisak:92), dilarang membuka aurat dan lainnya.

Adapun ayat-ayat kauniyah, dinamakan juga dengan "al-kutub al-kabir"(kitab yang besar), ayat-ayat yang dihamparkan Allah seluas bumi dan langit kepada manusia. inilah yang dimaksudkan dengan sunnatullah. Ayat-ayat kauniyah tidak bisa bersuara, dan tidak bisa disuarakan, ia bisu dalam keadaan dan peristiwa. Tetapi sidang jamaah yang dirahmati Allah, di dalamnya sarat dengan makna dan ribuan nilai rahasia Allah, penuh isyarat dengan berbagai hikmah, yang tidak begitu mudah diketahui oleh manusia, seperti diisyaratkan al-Qur'an dalam surat al-Isra' ayat, 44:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah, dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka . Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
Pada umumnya manusia tidak memahami dan tidak mau tahu dengan ayat-ayat kauniyah yang dihamparkan Allah di alam semesta ini. Kadangkala manusia angkuh, bersikap kasar dan menzaliminya, dengan merusak alam ini, menguras hasil bumi tanpa henti, Membabat hutan tanpa hati nurani, lautpun dicemari, sehingga bisa berpengaruh pada keseimbangan planet, sebagai sunnatullah di alam ini, bahkan berdampak pada perubahan iklim yang sangat serius dengan suhu semakin panas di bumi. Para ahli lingkungan membuat estimasi, bahwa dalam waktu yang tidak lama, semua species semakin sulit tinggal di bumi, bila manusia tidak mau meghentikan sifat ketamakan dan kerakusannya, seperti diingatkan Allah dalam firman-Nya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. al-Rum:41).
Dua fungsi
Jangankan ayat-ayat kauniyah yang tidak bersuara dan bisu itu diabaikan oleh manusia berakal cerdas, malahan ayat-ayat quraniyahpun, yang bisa dibaca dan mudah dipahami, dikesampingkan oleh manusia-manusia zalim, malahan yang lebih tragis lagi dilawan karena dianggap tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya dan dianggap berlawanan dengan hak asasinya. Melawan aturan Tuhan berarti mengundang "bencana", melawan sunnah-Nya berarti "kehancuran".Bumi ini sebagai salah satu planit diciptakan Allah, merupakan tempat hunian manusia yang sangat nyaman. Namun harus pula dipahami, bahwa bumi memiliki dua fungsi, seperti dijelaskan Ibnul Qayyim, bisa berfungsi sebagai rahmat dan bisa pula sebagai bencana.
Ketika bumi berfungsi sebagai rahmat, manusia jadi besar dan hebat di hadapan alam. Beragam temuan ilmiah dan teori dipublikasikan, seolah-olah ia mampu mengatur angin dan udara, air yang cukup dan disterilkan dari berbagai kuman, tanah diolah, menjadi subur sehingga memberi barakah rizkinya. Tetapi bila bumi berfungsi bencana, manusia jadi kecil di hadapan alam ini. Semua teorinya yang selama ini dibanggakan jadi tidak berfungsi. Angin topan tidak mampu di tahan, ia akan menghantam apa saja yang melintangnya, banjir tidak bisa dikendalikan, berbagai penyakit dan wabah terus terjadi dan sulit diatasi, apalagi gempa dan tsunami, membuat manusia pasrah, tidak berdaya. Tidak pernah bumi memberitahukan akan terjadi gempa, demikian pula laut tidak pernah memberi informasi bahwa tsunami akan datang.
Al-Qur'an dalam berbagai ayat mengungkapkan fenomena alam tersebut, seperti terdapat dalam surat al-Qamar(ll), al-Rahman(37), al-Haqqah(16), al-Ma'arij(S), al-Mursalat(9), an-Naba"(19), dan al-Takwir(ll). Dari ketujuh ayat tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua hal yaitu" jika langit terbelah" dan "jika langit menjadi lemah".

Ide dasar pertama dipahami terjadinya pemanasan global bumi dengan terkoyaknya lapisan ozon, sehingga sinar ultraviolet bisa mengganggu, bahkan dalam kondisi tertentu bisa mematikan species di bumi, sedangkan ide dasar kedua, dengan terjadinya pemanasan global, "langit terbelah:, maka fungsi ekologis langit akan menurun, bahkan jika penurunan tersebut secara radikal maka akan berdampak terjadinya berbagai kerusakan dan kehancuran di bumi ini, yang diistilahkan dengan "kiamat", seperti diisukan kerusakan besar akan terjadi pada tahun 2012 , yang dalam istilah agama disebut dengan "kiamat sughra". Bumi semakin sering bergoncang, gempa bumi semakin sering terjadi, dan terakhir di Haiti dan Chili, mungkin juga akan terulang di Serambi Makkah ini, bila manusianya melupakan Tuhan-Nya.
Informasi al-Qur'an dengan segala ayat-ayat Allah di jagat raya ini memberi makna kepada kita, betapa kemahabesaran Allah dengan segala ciptaan-Nya/ Karena itu manusia dalam mencari karunia Tuhan tidak boleh angkuh dan sombong, tetapi tetap dalam batas-batas mencari keridaan-Nya, dengan prinsip" halalan tayyiba", di samping "amanah dan keikhlasan" Sedapat mungkin manusia dalam akfivitasnya, berupaya menolak segala bentuk kerusakan (al-fasad), dengan mengutamakan maslahah (wala tufsidu ba'da islahiha), janganlah kamu melakukan kerusakan setelah Allah memperbaikinya.(Q, al-Qashas:77)., sebuah kaidah juga menyebutkan: dar ul mafasid muqaddam 'ala jalbil masalih ( menolak kerusakan harus lebih diutamakan daripada mewujudkan kemaslahatan).
Mari kita wujudkan suasana nyaman, ramah lingkungan dan rahmatan HI 'alamin, baik di rumah, di jalan, di kantor.di pasar dan di manapun kita berada. Dengan demikian alam semakin dekat bersahabat dengan kita, dan Insya Allah rahmat-Nya pun selalu barakah di bumi sebagai tempat hunian manusia dengan seluruh makhluk-Nya, bahkan bencana akan terhindar dari kita semua, Amin Ya Rabbal alamin.

0 coment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !